SOCIAL CHANGE
PERUBAHAN SOSIAL
"SOCIAL CHANGE"
Oleh : Syifa' Yahyania Awim Tasya (04020520085)
Menurut Talcott Parsons dan Willbert E. Moore, teori tentang
masyarakat dan perubahan sosial tidak dapat dipisahkan. Namun juga harus diakui
bahwa tidak ada satu teori perubahan sosial yang benar-benar mencukupi untuk
membaca perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Social
change diakibatkan karena terjadinya perubahan keseimbangan pada
suatu masyarakat yang dipengaruhi oleh beberapa unsur penting yang ada,
seperti: biologis, geografis, ekonomi, dan unsur lainnya.
Pengertian
Perubahan sosial
dapat dibayangkan sebagai perubahan yang terjadi di dalam atau mencakup sistem
sosial. Adapaun perbedaan antara keadaan sistem tertentu dan jangka waktu berlainan.[1]
Perubahan ini disebabkan oleh tiga faktor utama yakni perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi (Iptek), faktor kependudukan, faktor ekologi dan
lingkungan sekitar.[2] Setiap saat masyarakat selalu mengalami
perubahan. Ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan sosial
yang ada, dimana manusia selalu tidak puas dengan apa yang telah dicapainya.
Oleh karena itu manusia selalu mencari sesuatu agar hidupnya lebih baik. Beberapa
ahli juga memiliki pandangan mengenai pengertian perubahan sosial ini berikut.
1. William F. Ogburn
Ditekankan oleh Ogburn bahwa perubahan sosial
ini terjadi karena kebudayaan material mempunyai pengaruh besar terhadap
kebudayaan immaterial sehingga terjadilah perubahan ini.
2. Kingsley Davis
Beliau menyatakan bahwa perubahan sosial
merupakan suatu perubahan dalam struktur dan fungsi masyarakat.
3. Gillin
Gillin mengemukakan bahwa perubahan sosial
merupakan suatu variasi atau sesuatu lain yang timbul dari cara hidup yang
telah diterima. Dimana sesuatu yang baru tersebut dapat disebabkan perubahan
dalam kondisi geografis maupun penduduknya.
4. Samuel Koenig
Perubahan sosial dapat
pula mempunyai pengertian sebagai adanya modifikasi-modifikasi
faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi kehidupan manusia
5. Selo Soemarjan
menyatakan bahwa
perubahan sosial mencakup semua aspek perubahan dalam lembaga suatu masyarakat
yang dapat mempengaruhi sistem sosial termasuk nilai, sikap dan pola perilaku
kelompok dalam masyarakat tersebut. Ia menekankan bahwa perubahan sosial
terjadi pada lembaga masyarakat sehingga mempengaruhi struktur masyarakat yang
bersangkutan.
Secara umum ini dapat diartikan sebagai suatu proses pergeseran atu
berubahnya struktur tatanan pada masyarakat, meliputi pola pikir yang lebih
inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapatkan penghidupan yang
lebih bermartabat.[3]
Faktor pengaruh perubahan
sosial / terjadinya perubahan sosial
1.
Toleransi
Pada dasarnya,
toleransi merupakan sebuah sikap untuk saling menerima berbagai perbedaan
sebagai fakta sosial. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari aspek, cara
berpikir, hingga berupa tindakan. Jika masyarakat tidak dapat menerima bahwa
perbedaan itu ada, maka akan sulit baginya untuk dapat menjalin komunikasi
dengan golongan yang berbeda. Sikap toleransi atau menerima perbedaan dapat
diterapkan dengan menerima keberadaan penyimpangan sosial. Toleransi juga dapat
diartikan sebagai sikap terbuka. Dengan sikap saling terbuka tersebut
masyarakat lebih mudah untuk menciptakan perubahan sosial di masyarakat.
2.
Menghargai
Jika dalam masyarakat sudah mampu menghargai karya orang lain, maka
masyarakat tersebut telah menghargai inovasi-inovasi yang terjadi di dunia.
Pengakuan terhadap inovasi tersebut akan menjadikan setiap orang untuk terus
bergerak maju dan mengikuti perkembangan zaman. dalam tataran institusional,
perlindungan terhadap hak cipta adalah salah satu modal masyarakat untuk terus
berkembang. Pada akhirnya, menghargai karya orang lain dapat berupa memberikan
pengakuan terhadap karya orang lain. Dengan menghargai karya orang lain, dapat
memberikan pengaruh untuk memberikan pengaruh motivasi agar berkarya lebih.
Dengan begitu, masyarakat akan terbuka dan mudah untuk melakukan perubahan.
3.
Sistem pendidikan terbuka
Sistem pendidikan yang terbuka berorientasi pada perluasan wawasan serta
dapat menerima masukan-masukan dari pihak luar. Sistem pendidikan yang terbuka
biasanya terjadi di sekolah maupun universitas yang peka terhadap perkembangan
teknologi dan keadan sekitar. Contoh dalam faktor ini adalah bahasa Inggris
yang dijadikan sebagai bahasa ilmiah dunia. Hal tersebut berarti bahwa
komunikasi antar ilmuan di dunia menggunakan bahasa Inggris sebagai media
komunikasi. Saat ini juga seringkali kita menemukan sebuah institusi yang mulai
mengajarkan pendidikan bahasa Inggris bagi anak didiknya. Dengan kasus
tersebut, tidak menutup kemungkinan bahwa kedepannya bahasa ini akan menjadi
bahasa yang biasa digunakan di masyarakat. tentunya terjadi perubahan sosial
dalam contoh tersebut. Selain itu, kebijakan untuk menerapkan sistem pendidikan
yang terbuka ini menjadi faktor pendorong dalam mencapai perubahan sosial.
4.
Stratifikasi sosial
terbuka
Stratifikasi
sosial terbuka juga menjadi Faktor pendorong perubahan sosial. Salah satu
contoh dari stratifikasi terbuka adalah adanya pendidikan formal. Pendidikan
tersebut dapat mengangkat masyarakat ke lapisan atas dan mengangkat keluarga ke
lapisan lebih tinggi. Sebagai contoh, seorang anak petani yang lulus dengan
gelar sarjana dapat mengangkat derajat dirinya dan keluarga. Jika ia kemudian
bisa mendapatkan pemasukan berlipat-lipat maka mobilitas sosial akan terjadi.
Oleh karenanya, stratifikasi sosial terbuka dapat menciptakan peluang besar
terhadap terjadinya perubahan sosial.
5.
Orientasi masa depan
Faktor pendorong perubahan sosial terkait dengan visi dan misi yang hendak dicapai
di masa depan. Tanpa menggunakan acuan visi misi, maka tindakan ini hanya
berujung disorientasi. Sekelompok orang yang memiliki visi akan bertindak lebih
jauh di masa depan. Dalam orientasi masa depan seringkali mengandung unsur
perubahan.
6.
Penduduk heterogen
Faktor pendorong perubahan sosial
selanjutnya adalah penduduk yang heterogen. Masyarakat yang heterogen akan
mewujudkan adanya perbedaan. Semakin kompleks keberagaman yang terjadi di
masyarakat, semakin menjadi faktor perubahan sosial yang terjadi. Dibalik penduduk yang heterogen, terdapat
berbagai ide dan opini yang berbeda. Dengan keberagaman tersebut maka ide dan
pendapat akan melahirkan inovasi-inovasi baru. Sebuah tatanan masyarakat yang
memiliki keseragaman cenderung memiliki kondisi yang statis yang mati. Dengan
adanya heterogenitas populasi akan menjadi faktor pendorong perubahan sosial
yang ada di masyarakat.
7.
Tidak puas kondisi
sekarang/saat ini
Masyarakat yang memiliki ketidakpuasan dapat mendorong untuk mencapai
perubahan. Masyarakat dalam golongan ini cenderung tidak ingin berlama-lama
tenggelam dalam rasa biosan. Pandangan ini sering disebut sebagai pandangan
naluriah karena rasa bosan akan dialami oleh siapa saja. Dengan rasa bosan
tersebut, masyarakat cenderung melakukan berbagai hal untuk menciptakan
perubahan dan keluar dari zona tersebut.
8.
Mudah menerima hal baru
Faktor ini sangat berkaitan dengan pengakuan
hasil karya yang sudah dijelaskan sebelumnya. Dengan adanya sikap untuk
menerima perbedaan, maka semakin mudah pula masyarakat tersebut untuk
menciptakan perubahan sosial.
Faktor yang menghambat
perubahan sosial
Perubahan sosial tidak
semulus realitanya dalam penerapannya. Perlu proses untuk menghadapi semua itu.
Cepat atau lambatnya perubahan ini juga dipengaruhi oleh masyarakat langsung.
Walaupun memiiki semangat yang tinggi dalam melakukan perubahan namun terdapat
juga penghambat di dalamnya. Berikut beberapa yang menjadikan penghambat perubahan sosial
1. Adanya rasa khawatir terhadap integrasi
masyarakat
Ada sebagian
dari masyarakat yang takut dan khawatir terhadap terjadinya perubahan di
masyarakat. Hal ini dikarenakan masyarakat tersebut beranggapan bahwa perubahan
dapat menggoyahkan integrasi dalam masyarakat. Selain itu, perubahan yang
terjadi di lapisan masyarakat dinilai dapat mengganggu tatanan sosial yang
sudah berlangsung. Contoh ini adalah penggunaan traktor dalam mengolah lahan
pertanian. Pada awalnya, penggunaan alat tersebut ditolak oleh masyarakat
karena dianggap memudarkan asas gotong royong di antara petani. Namun seiring
dengan perkembangan zaman, alat tersebut menjadi alat utama untuk membajak sawah.
2. Adat kebiasaan
Setiap masyarakat, khususnya di
Indonesia, tentu memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda-beda. Kebiasaan atau
adat istiadat merupakan sebuah pola perilaku anggota-anggota masyarakat dalam
memenuhi kebutuhan. Adat istiadat dalam masyarakat tidak akan berubah ketika
suatu saat timbul krisis adat dan kebiasaan. Dalam konteks ini, adat dan
kebiasaan sudah tidak efektif digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok
masyarakatnya. Dalam tatanan masyarakat, akan sangat sulit untuk merubah adat
dan kebiasaan yang sudah terbiasa dilakukan atau dipakai. Hal ini tentunya juga
menjadi faktor penghambat dalam mencapai perubahan sosial. Contohnya adalah
kebiasaan masyarakat untuk menggunakan pisau yang terbuat dari kayu untuk
memotong padi. Kebiasaan tersebut akan sulit untuk diubah meskipun sudah
terdapat alat pemotong yang lebih canggih. Selain contoh tersebut, adat dan kebiasaan yang
menjadi faktor penghambat lainnya biasanya berupa kepercayaan, cara berpakaian
dan lain sebagainya.
3. Hambatan ideologis
Sebuah
perubahan dalam masyarakat sulit tercapai jika berbenturan dengan ideologi atau
paham yang diyakini oleh masyarakat tertentu. Hal tersebut tentunya karena
setiap perubahan yang memiliki hubungan dengan kepercayaan atau keyakinan akan
ditolak. Penolakan tersebut terjadi karena dianggap bertentangan dengan
ideologi yang mereka anut. Contoh dalam hal ini adalah masyarakat yang
mempercayai bahwa sebelum adanya pembangunan jalan raya, masyarakat harus
mengadakan ritual terlebih dahulu. Namun terkadang terdapat pembangunan yang
tidak melalui ritual tersebut. Nah bagi penganut ideologi tertentu, pembangunan
tersebut akan ditolak karena tidak sesuai dengan paham yang mereka yakini.
4. Sikap tertutup masyarakat
Faktor
penghambat perubahan sosial masyarakat juga dapat dipengaruhi oleh sifat
masyarakat yang masih tertutup. Sikap
konservatif atau tertutup merupakan sebuah ketakutan untuk menjalankan
perubahan dan membawa mentalis yang buruk dalam menuju kemajuan. Hal tersebut
disebabkan karena masyarakat tertutup menganggap bahwa setiap elemen yang
datang dari luar sebagai ancaman. Sikap tertutup
biasanya dimiliki oleh masyarakat yang sempat dijajah oleh bangsa lain.
Masyarakat yang mengalami penjajahan akan menganggap bahwa setiap unsur yang
berbau negara penjajah akan memberikan dampak negatif. Oleh karenanya,
untuk mencapai perubahan sosial, masyarakat harus menghindari sikap
konservatif atau tertutup.
5. Prasangka terhadap hal baru
Selain karena
nilai-nilai kepentingan, sebuah prasangka yang buruk terhadap hal-hal yang baru
juga dapat menjadi penghambat sebuah perubahan. Ketika ada hal baru yang datang, ada sebuah kekhawatiran dari sebagian
masyarakat. Jika merasakan hal tersebut, sebagian masyarakat akan mempengaruhi
kelompok lain untuk tidak menerima perubahan tersebut.
6. Kurangnya bersosialisasi/kurangnya membaur
dengan sekitar/ sulit beradaptasi
Manusia
merupakan makhluk sosial sehingga selalu membutuhkan hubungan dan interaksi
dengan manusia lainnya. Oleh karenanya, masyarakat yang memiliki sedikit
hubungan atau interaksi dengan orang lain akan mengalami perubahan yang lambat.
Hal ini tentunya karena masyarakat tersebut tidak mengetahui perkembangan
masyarakat lain sehingga kurang memperkaya kebudayaan sendiri. masyarakat
tersebut akan terkukung dengan budaya mereka sendiri sehingga memiliki pola
pikir yang tradisional. Setelah membahas tentang faktor penghambat, tentunya
sebuah perubahan juga memiliki faktor pendorong. Faktor pendorong ini tentunya
akan mempercepat terjadinya perubahan sosial di lapisan masyarakat tertentu.
7. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat
Terlambatnya perkembangan ilmu di masyarakat dapat terjadi karena pergaulan
masyarakat yang terbatas. Tidak adanya niat dan keinginan untuk menambah
wawasan di bidang ilmu pengetahuan dapat berdampak terhadap perubahan sosial.
Hal ini dapat diakibatkan karena pola pikir yang terbelakang. Selanjutnya pola
pikir tersebut dapat memunculkan pandangan atau stigma terhadap adanya
sekelompok masyarakat yang tidak menginginkan adanya perubahan.
8. Hakikat hidup
Seringkali kita menemukan sebuah masyarakat yang memiliki kepercayaan bahwa
baik buruknya kehidupan telah diatur oleh yang maha kuasa. Dorongan akan
terjadinya perubahan dan penghambat perubahan sosial juga selalu ada di setiap
masyarakat. Kedua hal tersebut tergantung pada besar kecilnya kekuatan
masyarakat dalam menanggapi setiap perubahan tersebut. Jika dorongan perubahan
lebih kuat dibandingkan dengan hambatan, maka perubahan sosial dapat terjadi di
masyarakat. Sebaliknya, jika hambatan di suatu masyarakat lebih besar
dibandingkan dengan dorongan perubahan, maka perubahan sulit untuk terjadi.
9. Masyarakat bersikap tradisional
Kebanyakan sikap masyarakat yang masih memihak pada masa lampau karena
menurut beberapa kelompok, masa tersebut memberikan beberapa kemudahan. Sebuah
tradisi yang berlaku tersebut dijadikan sebagai warisan yang tidak dapat diubah
dan harus dilestarikan. Pola pikir yang seperti ini akan menghambat sebuah
perubahan sosial. Terutama bagi beberapa kelompok yang tertutup dan ingin
bertahan dengan kepemimpinan masyarakat.
10. Kepentingan yang tertanam
Nilai-nilai tradisional yang sudah tertanam kuat dalam masyarakat akan menimbulkan
sebuah kepentingan-kepentingan kolektif. Hal ini juga dapat menghambat
terjadinya perubahan sosial. Hal ini karena pada hakikatnya suatu perubahan
akan meninggalkan nilai-nilai tradisional. Perubahan tersebut bertujuan untuk
mendapatkan nilai-nilai baru yang lebih bermanfaat dan lebih sesuai dengan
keadaan masyarakat. Oleh karenanya, untuk mendapatkan sebuah perubahan,
masyarakat harus berani untuk menghilangkan kepentingan tersebut.
Proses perubahan sosial
Kecepatan
proses dari perubahan sosial tersebut mungkin akan berlangsung cepat dalam
jangka waktu tertentu. Perubahan-perubahan sosial memang disengaja dan
dikehendaki. Oleh karenanya bersumber pada prilaku para pribadi yang didasarkan
pada kehendak-kehendak tertentu. Perubahan di masyarakat senantiasa terjadi.
Perubahan tersebut dapat diketahui dengan membandingkan keadaan masyarakat
dalam satu waktu dengan keadaan yang lampau. Menurut Bertrand (1980), proses
terjadinya perubahan sosial adalah sebagai berikut:
a.
Difusi
Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur
kebudayaan dari satu individu ke individu yang lain, dari satu golongan ke
golongan yang lain, atau dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Masuknya
unsur-unsur baru ke dalam suatu masyarakat dapat terjadi melalui:
· Pementasan
damai (penetration pacifique), yaitu masuknya unsur baru kedalam masyarakat
tanpa tanpa paksaan dan kekerasan. Misalnya masuknya kebudayaan islam ke
masyarakat Indonesia.
· Perembesan
dengan kekerasan (penetration violente), yaitu masuknya unsur baru kedalam
masyarakat yang diwarnai dengan paksaan dan kekerasan sehingga terkadang
merusak kebudayaan setempat.
· Simbiotik,
yaitu proses masuknya unsur-unsur kebudayaan ke atau dari dalam masyarakat yang
hidup berdampingan.
b.
Akulturasi
Akulturasi atau kontak kebudayaan merupakan
proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan
tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing sedemikian rupa
sehingga unsur-unsur kebudayaan tersebut lambat laun diterima dan diolah
kedalam kebudayaannya tanpa menghilangkan sifat khas kepribadian kebudayaan
asal.
c.
Asimilasi
Asimilasi adalah proses sosial tingkat lanjut
yang timbul apabila terdapat golongan-golongan manusia yang mempunyai latar
belakang kebudayaan berbeda saling berinteraksi dan bergaul secara langsung dan
intensif dalam waktu yang lama sehingga kebudayaan dari masing-masing golongan
tersebut berubah sifatnya dari yang khas menjadi unsur-unsur kebudayaan baru
yang berbeda dengan asalnya.
d.
Akomodasi
Akomodasi atau dikenal pula dengan sebutan
adaptasi. Akomodasi dapat berarti keadaan atau proses. Sebagai suatu keadaan,
akomodasi menunjuk kepada adanya keseimbangan dalam interaksi antara individu
dengan kelompok sehubungan dengan norma-norma dan nilai-nilai sosial yang
berlaku di masyarakat. Sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk kepada
usaha-usaha manusia untuk meredakan pertentangan-pertentangan atau usaha-usaha
untuk mencapai kestabilan sosial. Bentuk-bentuk akomodasi adalah sebagai
berikut:
· Konsoliasi,
merupakan pengendalian konflik melalui lembaga-lembaga tertentu yang
memungkinkan terjadinya difusi dan pengambilan keputusan diantara pihak-pihak
yang berlawanan mengenai persoalan-persoalan yang mereka pertentangkan.
· Mediasi, adalah
menunjuk pihak ketiga untuk memberikan nasihat-nasihat tentang bagaimana
caranya menyelesaikan pertentangan-pertentangan diantara golongan yang
bertikai.
· Arbitrasi,
pengendalian konflik dengan arbitrasi (perwasitan) hampir sama dengan mediasi
akan tetapi pihak yang bertikai dengan suka rela menerima putusan yang dibuat.
· Kompromi, yaitu
antara pihak yang bertikai saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu
penyelesaian masalah.
· Coercion,
merupakan bentuk pengendalian konflik yang dilakukan karena adanya paksaan.
Dalam hal ini salah satu pihak berada dalam keadaan lemah dari pihak lainnya.
Konsep perubahan sosial
Setiap lapisan
masyarakat pasti mengalami perubahan sosial. Adanya perubahan dan dinamika sosial
diakibatkan oleh interaksi manusia dan antarkelompok yang tidak bisa dihindari.
Perlu pemahaman juga
konsep perubahan sosial untuk menganalisi perubahan dinamika sosial ini, berikut
konsep terkait[4]
1. Internalisasi
Seorang manusia belajar
untuk menanamkan segla perasaan, hasrat, nafsu, dan emosi selama berkehidupan
2. Sosialisasi
Proses individu manusia dari
masa muda atau kanak-kanak hingga masa tuanya mempelajari tentang pola tindakan
untuk berinteraksi dengan sekelilingnya sehingga bisa memposisikan dirinya sebagai
peranan sosial di masyarakat.
3. Enkulturasi
Proses dimana individu
tersebut dalam mempelajari dan menyesuaikan pikiran serta sikapnya dengan adat
istiadat, sistem norma, dan etika yang hidup dalam kebudayaan sekitarnya. Tindakan
ini dilakukan dengan meniru sekitarnya dan menjadikan sebagai kebiasaan yang
dibudayakan.
4. Difusi
Suatu penyebaran unsur
kebudayaan dan sejarah sehingga ke manca negara. Proses ini juga terjadi
seiringan dengan pertukaran sosial antar individu manusia / kelompok di muka
bumi.
5. Akulturasi
Kegiatan ini timbul ketika
individua tau kelompok masyrakat bertemu dengan kebudayaan terterntu dengan
unsur budaya asing namun dengan berjalannya waktu ini akan menjadi suatu
kebudayaan baru dan akan diterima oleh masyarakat itu sendiri. Sederhananya ini merupakan percampuran antara dua
kebudayaan menjadi satu budaya.
6. Inovasi
Suatu proses pembaruan
dari penggunaan sumber alam, energi, dan modal, manajemen industri dengan
penggunaan teknologi baru yang akan menyebabkan adanya sistem produksi sehingga
menghasilkan suatu produk-produk baru.
Teori Klasik dan Modern tentang
Perubahan Sosial
Pendekatan pada teori klasik ini terdapat beberapa tokoh yang masuk dalam
kelompok ini, yakni[5]
1. Ibnu Khaldun : Masyarakat Badui versus masyarakat kota
2.
August Comte: Hukum Tiga Tahap
Comte memandang perubahan sosial suatu proses evolusi
yang bersumber pada proses perubahan secara bertahap dari daya pemikiran
masyarakat sendiri, evolusi intelektual. Secara lebih jelas Ia mengemukakan
adanya tiga tahapan perkembangan intelektual manusia yakni
a.
Theologis Primitif
Sebuah pemikiran manusia
langsung dikaitkan dengan hal-hal yang supernatural, atau yang alamiah.
Semua gejalayang terjadi dianggap sebagai
hasil dari tindakan langsung
dari hal-hal yang supernatural itu. Misal, banjir yang
terjadi secara terus-menerus pada suatu wilayah yang dipercayai sebagai hasil
kekuatan ghaib yang tidak disebabkan oleh perilaku manusia. Manusia percaya
bahwa ini kehendak dewa, dan mereka hanya pasrah menerima apa adanya.
b.
Metafisik Transisional
Tahap ini merupakan perkembangan selangkah dari tahap
pertama, theologis primitif. Dimana akal budi manusia tidak lagi mengaitkan langsung
setiap gejala dengan hal-hal supernatural, melainkan pada hal-hal yang
benar-benar nyata melekat pada semua benda. Dalam tahap ini hal-hal yang abstrak
dipersonifikasikan melalui benda-benda nyata, yang mampu menghasilkan
gejala-gejala yang berpengaruh pada kehidupan masyarakat. Seperti yang
dicontohkan pada tahap pertama manusia pasrah akan banjir secara beruntun yang
dianggapnya secara alamiah memang harusnya terjadi. Manusia pada tahap ini,
masih pasrah menerima kenyataan alam yang terjadi. Ini yang menyebabkan dalam tahap
ini, belum ada antisipasi atau pencegahan dalam mengantisipasi dampak negatif
dari adanya perubahan yang terjadi di dalam masyarakat.
c.
Positif Rasional
Akal budi manusia sudah memusatkan perhatiannya pada studi
tentang hukum-hukum alam. Pengamatan dan penalaran digabungkan dan merupakan dasar-dasar
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tahap positif adalah tahap yang paling sempurna dibanding dua
tahap sebelumnya yang dikemukakan oleh Comte. Tahap ini ditandai oleh kepercayaan
akan adanya data empiris sebagai sumber pengetahuan terakhir dan manusia berusaha
mengetahui factor penyebab tersebut. Misalnya, jika terjadi banjir secara rutin
di suatu perkampungan,
tentu ada faktor
penyebabnya, seperti hutan yang
telah gundul di daerah hulu, aliran sungai yang telah mendangkal, dan berbagai
penyebab lainnya.
3. Karl Marx : Menuju Masyarakt Komunis
Berbeda dengan Comte,
Marx berpendapat bahwa untuk memahami sosial bukanlah dengan ide-ide yang abstrak
dan perubahan dalam infrastruktur ekonomi masyarakat merupakan pendorong utama
dalam perubahan sosial. Dengan penekanan pada aspek struktur ekonomi masyarakat
masyarakat digolongkan ke dalam dua golongan utama atau kelas,
1) Kelas pekerja (proletar) menekankan kepentingan ekonominya untuk meningkatkan
kesejahteraan mereka sebagai imbalan dari tenaga dan waktu yang telah diberikan
dalam proses produksi.
2) Kelas pemilik modal (borjuis) yang berorientasi pada keuntungan
yang sebesar-besarnya (profit) dengan menekan biaya-biaya produksi.
Dengan demikian terjadilah pertentangan atau konflik kepentingan yang berkepanjangan.
Sebab setiap konflik akan mengarah pada bentuk kompromi tertentu, yang selanjutnya
akan menyongsong konflik-konflik baru yang selanjutnya menekankan kompromi.
Proses-proses inilah yang menjadi penggerak perubahan sosial.
4. Herbert Spencer: Menuju Masyarakat Heterogen
5. Emile Durkheim : pembagian Kerja dan Solidaritas Sosial
Menurut Durkheim setiap
masyarakat diikat oleh suatu nilai kebersamaan, yang kemudian dikenal dengan
konsep solidaritas. Mereka diikat oleh suatu jiwa atau hati nurani kolektivitas
masyarakat termasuk aktivitas perekonomiannya yang belum mengenal pengkhususan
atau spesialisasi. Pembagian kerja yang terjadi
hanya dirasakan pada perbedaan usia dan jenis kelamin. Dalam bukunya The
Division of Labour, Durkheim menguraikan bahwa semakin berkembang pembagian
kerja (diferensiasi dan spesialisasi) dalam masyarakat, semakin berkembang pula
semangat individualisme. Namun keragaman (heterogenitas) yang makin bertambah itu
tidaklah menghancurkan solidaritas sosial. Solidaritas organistik itu tumbuh
karena adanya saling ketergantungan antar masyarakat dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya. Seorang yang bekerja sebagai pekerja industri tentulah memerlukan
barang atau jasa-jasa yang dihasilkan
oleh pekerja lainnya untuk memenuhi kebutuhannya. Maka tercapailah saling ketergantungan
(interdependensi) antar bagian-bagian yang ada dalam masyarakat, yang ingin dipelihara
keutuhannya.
6. Ferdinand Tonnies : Gemeinschaft dan Gesellschaft
7. Max Weber : Perkembangan Rasionalitas Manusia
Dalam hubungan ini Weber
menguraikan terjadinya perubahan nilai di kalangan masyarakat yang secara
ortodox menganut paham Katolikisme yang dalam abad-abad pertengahan, orientasinya
cenderung menjauhkan masyarakat dari kegiatan
atau usaha untuk mengubah kondisi-kondisi kehidupannya. Nilai Katolikisme
seperti ini adalah bersifat legitimatedatau nilai etis pada masa itu. Oleh
karena itu, kemungkinan terjadinya perubahan dalam kehidupan masyarakat
tergantung dari adanya perubahan nilai-nilai yang dianut oleh sebagian besar warga
masyarakat yang bersangkutan. Salah satu asumsi penting Weber, bahwa agama merupakan
sumber utama dari nilai-nilai dan cita-cita yang berkembang keseluruh aspek
kehidupan manusia. Meskipun dalam konteks ini Weber justru berpendapat bahwa agama
merupakan faktor yang pada umumnya mendukung tradisi dan menentang
perubahan-perubahan Katolikisme di abad pertengahan tersebut. Proses perubahan nilai
dasar keagamaan inilah yang oleh Weber dijadikan penjelasan terhadap perubahan
sosial yang terjadi secara besar-besaran di kalangan masyarakat Eropa yang dikenal
sebagai konsentrasi pengamat agama-agama Kristen di dunia.
8. Talcot Parson : AGIL
9. Smelser : Faktor Independen
Terjadinya perubahan
sosial ini menjadi perhatian dari para ahli dari beberapa disiplin ilmu
lainnya. Terdapat pendekatan untuk menjelaskan fenomena perubahan sosial ini sebagaimana
berikut[6]
a. Pendekatan Ekuilibrium (Keseimbangan)
Prinsip pendekatan ini mengatakan
bahwa syarat kehidupan suatu masyarakat adalah adanya keseimbangan atau
Ekuilibrium diantara bagian-bagian yang terdapat didalamnya. Apabila ada faktor
yang masuk dalam mengganggu keseimbangan antar bagian-bagian tersebut akan
mengakibatkan terjadinya kegoncangan dalam kehidupan masyarakat. Dalam hak ini
manusia akan mengupayakan akan kesimbangan tersebut. Membicarakan perubahan
sosial dengan pendekatan ekuilibriumini, tokoh ilmuwan sosial yang tidak boleh dilewatkan
adalah Talcott Parsons. Sebenarnya teori Parsons mengenai perubahan sosial selain
dapat dikelompokan ke dalam pendekatan ekuilibrium, juga dapat di masukkan ke
dalam kelompok evolusi sosial (evolutionary approach) atau ke dalam
pendekatan sistem (system approach). Penekanan dasar
Parsons mengenai kehidupan masyarakat ialah adanya stabilisasi dan
keteraturan yang harmonis. Proses terjadinya perubahan sosial itu sendiri menurut
Parsons, tidak terlepas dari proses pemenuhan fungsi-fungsi masyarakat. Untuk menjelaskan
lebih lanjut proses perubahan itu, baiklah kita bahas 4 fungsi dasar yang harus
dipenuhi oleh setiap masyarakat atau setiap sistem sosial, agar masyarakat atau
sistem sosial yang bersangkutan dapat hidup berkembang.
1. Fungsi Penyesuaian Diri (Adaptation)
2. Fungsi Pencapaian Tujuan (Goal Attainment)
3. Fungsi Integrasi (Integration)
4. Fungsi Pemeliharaan
Pola Keseimbangan (Pattern Maintenance)
b. Pendekatan Modernisasi
Proses terjadinya
perubahan sosial berkorelasi dengan proses industrialisasi yang ditandai oleh
penemuan dan penggunaan alat-alat teknologi modern dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, sehingga
pendekatan ini lebih menekankan pada adanya faktor eksternal yaitu perkembangan
teknologi sebagai pendorong utama
berlangsungnya perubahan sosial. Beberapa tokoh ilmu sosial, khususnya
sosiologi dapat dikemukakan sebagai penganut utama pendekatan ini, diantaranya
adalah Neil Smelser, Wilbert More dan
Marion Levy. Acuan yang menjadi dasar perkembangan
masyarakat menurut mereka adalah pembangunan ekonomi. Tahapan pembangunan
ekonomi tersebut disesuaikan dengan faktor-faktor sumber daya yang dimiliki serta
teknologi yang dapat digunakan. Teknologi itu sendiri berkembang sesuai dengan
perkembangan kecerdasan dan akal budi manusia. Aspek sosial yang terkait dengan
kegiatan ekonomi sederhana ini ialah kehidupan masyarakat yang masih kurang didiferensiasi atau kurang terspesialisasi.
Karena tidak ada spesialisasi, maka satu
unit rumah tangga dapat melakukan banyak kegiatan yang langsung berkaitan
dengan berbagai aspek kehidupan mereka misalnya, sebuah unit
rumah tangga petani, juga berfungsi melaksanakan pendidikan dasar bagi
anak-anak serta berfungsi penuh dalam perawatan kesehatan anggota keluarganya.
Kemajuan ilmu pengetahuan memungkinkan untuk melahirkan alat-alat teknologi modern
yang pada gilirannya memberikan mereka kegiatan utama. Dengan demikian
terjadilah proses modernisasi yang bergandengan dengan pembangunan ekonomi,
yang kemudian dikenal dengan proses industrialisasi. Dalam perkembangan yang
demikian itu, di mana faktor pembangunan ekonomi dan industrialisasi yang menjadi
sumbernya, terjadilah proses perubahan sosial yang ditandai oleh perubahan dari
berbagai aspek.
c. Pendekatan Konflik
Kebangkitan kembali teori
konflik dalam versi modern dimunculkan oleh tokoh-tokoh seperti R.Dahrendorf,
John Rex, dan D. Lockwood, sejak tahun 1960-an. Mereka pada dasarnya mengembangkan dan mempertahankan
konsep konflik sebagai penggerak perubahan sosial. Akan tetapi mereka pun
menolak beberapa aspek pemikiran Marx terutama yang menyangkut pandangan metafisiknya.
Dalam pendekatan konflik versi modern ini Dahrendorf dan kawan-kawannya membahas fenomena konflik sosial dan konteks
pemikiran struktural fungsional. Untuk jelasnya, dibawah ini akan diuraikan proses
perubahan sosial dalam lingkungan konsep struktural fungsionalisme menurut pendekatan
konsensus /ekuilibrium dan menurut pendekatan konflik.
1. setiap masyarakat merupakan suatu konfigurasi antar unsur-unsur yang
relatif bertahan lama
2. setiap masyarakat merupakan suatu konfigurasi antar unsur-unsur yang
berintegrasi secara baik
3. setiap unsur (elemen) dalam masyarakat memberikan kontribusi yang
proporsional terhadap berfungsinya masyarakat itu.
4. setiap masyarakat bertahan diatas konsensus anggota-anggotanya.
Dengan demikian perubahan sosial akan terjadi
apabila unsur-unsur di dalam sistem atau
di dalam masyarakat berubah, serta mengganggu ekuilibrium masyarakat, lalu
bagian-bagian yang lain pun secara bertahap dan dalam suasana konsensus akan
menyesuaikan diri. Dalam konteks ini, penganut pendekatan konflik mengemukakan pendapat bahwa:
1)
setiap masyarakat setiap saat
merupakan subjek perubahan. Jadi
perubahan sosial itu sifatnya endemik, atau ada di mana-mana.
2)
setiap masyarakat pada
setiap saat mengalami konflik sosial. Jadi konflik sosial itu sifatnya ada di
mana-mana
3)
setiap unsur (elemen) dalam masyarakat memberikan kontribusi
yang proporsional terhadap perubahannya sendiri.
4)
setiap masyarakat berada di atas ancaman sebagai anggota
masyarakat oleh yang lainnya (sebagai potensi konflik yang berlangsung terus). Dalam menguraikan lebih lanjut proses konflik
sosial yang mendorong terjadinya perubahan sosial, Dahrendorf menyatakan:
a.
Pada setiap masyarakat, terdapat dua kelompok yang
masing-masing menampilkan peranan positif dan peranan negatif. Keduanya mendapatkan
peranan pada kepentingannya masing-masing yang saling bertentangan. Kelompok yang
berkepentingan untuk mempertahankan keadaan yang ada sekarang (statusquo)
dianggap menampilkan peranan positif, sementara kelompok yang berkepentingan untuk
mengadakan perubahan dalam masyarakat, dianggap menampilkan peranan negatif.
b.
Dengan demikian dalam setiap masyarakat terdapat
kelompok-kelompok kepentingan atau interst groups
c.
Kelompok-kelompok kepentingan (interst group) ini akan berada
dalam suasana konflik terus-menerus dalam memperjuangkan terjadinya perubahan
ataukah tetap dipertahankannya statusquo.
d.
Bentuk maupun intensitas konflik antar kelompok tersebut
ditentukan oleh kondisi-kondisi empiris yang dialami masyarakat.
e.
Konflik diantara kelompok-kelompok kepentingan inilah yang
akan mengarahkan masyarakat ke dalam suatu perubahan dalam struktur dan
hubungan-hubungan sosial, melalui perubahan-perubahan pada aspek-aspek hubungan
masyarakat yang dominan.
Inti dari pandangan pendekatan konflik ini bahwa masyarakat sebagai suatu
sistem sosial bukanlah suatu kelompok yang terintegrasi harmonis dalam arti
mengikatkan diri pada suatu sistem nilai yang sama. Konflik yang terus-menerus
terjadi diantara keduanya menurut teori ini akan membawa masyarakat ke dalam perubahan
sosial tergantung faktor yang mempengaruhi masing-masing kelompok.
Macam perubahan sosial
Ada banyak teori in yang
berkembang di masyarakat. Terdapat macam-macam teori berikut
1. Teori konflik
Menurut teori konflik
karena adanya pertentangan yang terjadi di dalam suatu masyarakat. Teori
konflik ini dipengaruhi oleh pemikiran Ralf Dahrendord serta Karl Marx. Konflik
ini dimulai dari perselisihan antar kelompok yang merasa ditindas oleh penguasa
sehingga menimbulkan sebuah perubahan. Berdasar teori ini, perubahan yang
terjadi terus menerus selalu berdampingan dengan konflik sosial. Adapun point
pentingnya antara lain:
1.
Semua masyarakat berada di
titik konflik serta ketegangan.
2.
Semua masyarakat akan
mengalami perubahan terus menerus.
3.
Semua elemen masyarakat menunjang terjadinya
suatu perubahan.
4.
Kestabilan sosial
dipengaruhi oleh tekanan antar kelompok masyarakat.
Teori ini beranggapan bahwa masyarakat hidup dalam
dualisme kelas yang terbagi atas kelas borjuis dan kelas proletar. Adanya
dualisme kelas tersebut akhirnya menjadi pemicu terjadinya konflik sosial dalam
wujud revolusi sosial yang berdampak pada perubahan-perubahan sosial. Contohnya
Revolusi Perancis yang terjadi pada abad ke-18.
2. Teori evolusi
Berdasarkan teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin serta
dipengaruhi dari pemikiran miliki Herbert Spencer, proses dari perubahan ini
bisa terwujud melalui proses waktu yang panjang secara perlahan dan harus
melewati setiap step hingga ke titik perubahan tersebut. Teori ini beranggapan
bahwa perubahan sosial terjadi akibat perubahan cara pengorganisasian
masyarakat, sistem kerja, perkembangan sosial, dan sistem kerja. Di dalam teori
ini perubahan sosial dibedakan menjadi menjadi dua jenis, yaitu revolusi dan
evolusi. Revolusi merupakan perubahan sosial
yang terjadi secara cepat, misalnya revolusi politik. Sedangkan evolusi
merupakan perubahan sosial yang terjadi secara lambat, misalnya peralihan
penggunaan bahan bakar minyak menuju bahan bakar gas.
3. Teori siklus / siklis
Teori siklus ini
dicetuskan oleh Arnold Toynbee dan Oswald Spenger. Menurut mereka dalam
teori ini, setiap perubahan di dalam masyarakat tidak bisa dikendalikan secara
penuh oleh siapapun karena adanya sebuah siklus yang harus dilakukan atau
dipenuhi. Menurut
mereka, proses social change ini seperti proses pada berkembangan
manusia, dimulai dari anak, remaja, dewasa kemudian menjadi tua. Dilansir dari
buku Pengantar Ringkas Sosiologi (2020) karya Elly M. Setiadi, teori ini
menggambarkan bahwa perubahan sosial bagaikan roda yang sedang berputar.
Maksudnya adalah perputaran zaman merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakan
oleh siapapun dan tidak dapat dikendalikan oleh siapapun. Menurut teori ini,
kebangkitan dan kemunduran peradaban sebuah bangsa mempunyai hubungan
korelasional antara satu dengan lainnya, yaitu tantangan dan tanggapan.
Misalnya, apabila kehidupan masyarakat mampu merespon tantangan kehidupan dan
mampu menyesuaikan diri, maka masyarakat tersebut akan mengalami perkembangan
dan kemajuan. Sebaliknya, apabila masyarakat tersebut tidak mampu merespon dan
menyesuaikan diri terhadap tantangan, maka masyarakat tersebut akan mengalami
kemunduran, bahkan kehancuran.
4. Teori fungsional
Willliam Ogburn adalah orang yang memberikan ide mengenai
teori fungsional ini, menurutnya kecepatan perubahan yang terjadi bisa tidak
sama meskipun elemen-elemen dalam masyarakat terhubungan satu dengan yang lain.
Teori ini beranggapan bahwa perubahan sosial diakibatkan adanya ketidakpuasan
masyarakat karena kondisi sosial yang berlaku pada masa tertentu memengaruhi
pribadi mereka. setiap perubahan tidak selalu membawa perubahan pada semua
unsur sosial. Ada beberapa unsur sosial yang tidak ikut berubah. Unsur yang
tidak berubah tersebut akan mengalami ketertinggalan yang berakibat pada
kesenjangan kebudayaan. Misalnya, telepon umum dibuat agar masyarakat dapat
melakukan komunikasi menggunakan pesawat telepon dengan mudah. Akan tetapi,
perubahan tersebut tidak diikuti oleh perubahan pola sikap dan perilaku
masyarakat. Hasilnya, telepon umum tersebut dalam waktu singkat sudah tidak
berguna. Bahkan sebagian besar telepon umum yang sudah dipasang, koinnya dicuri
oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Karakteristik Perubahan Sosial
Tidak semua mayarakat bisa dikatakan sebagai perubahan sosial ini bisa
dikatakan perubahan sosial ketika terdapat ciri-ciri berikut:
1. Imitative
Perubahan yang
terjadi di masyarakat terjadi dengan mengikuti masyarakat yang lain. Hal ini
disebabkan karena setiap kelompok dalam masyarakat akan saling memiliki
pengaruh.
Selain itu,
antara kelompok masyarakat yang satu dengan lainnya tidak dapat saling
memisahkan atau mengisolir diri. Contohnya adalah perubahan yang terjadi dalam
bentuk gaya berbusana, potongan rambut, dan lain sebagainya.
2. Sengaja
Dilakukan
dengan sengaja, namun tidak menutup kemungkinan pula bahwa perubahan sosial terjadi
secara tidak sengaja. Sebagai salah satu contoh perubahan ini adalah produsen
kendaraan bermotor.
Sebagai sebuah
produsen bermotor, pastinya akan mengembangkan inovasi kendaraan agar dapat
digunakan sebagai media transportasi yang lebih baik dan lebih cepat.
Meskipun
begitu, kebanyakan masyarakat tidak membayangkan jika perubahan tersebut
mempunyai dampak perubahan sosial yang lain.
3. Berkelanjutan
Sebuah perubahan sosial terjadi atau
berlangsung secara berkelanjutan. Hal tersebut menjelaskan bahwa masyarakat
akan selalu berubah baik dengan cara yang cepat maupun lambat.
Perubahan sosial terjadi sebagai bentuk konsekuensi dasar dari sifat
manusia yang sudah terlahir sebagai makhluk sosial.
4. Hubungan kausalitas
Ciri perubahan
sosial dalam bentuk ini dapat terjadi karena aspek material maupun immaterial
dengan hubungan yang berupa timbal balik. Untuk lebih jelasnya, berikut ini
adalah penjelasan lebih lanjut tentang ciri perubahan sosial dengan hubungan
kausalitas.
Yang pertama
adalah disorganisasi sementara yaitu perubahan yang terjadi secara cepat.
Perubahan ini dapat menyebabkan disorganisasi atau kekacauan sementara.
Terkadang
perubahan juga menimbulkan kontroversi. Biasanya perubahan yang menyebabkan
kontroversi adalah perubahan yang terjadi secara tiba-tiba.
Dilihat dari
penggolongan watak manusia, perubahan dapat dibagi menjadi proses sosial, perubahan
struktur dan juga kelompok.
5. Terjadi dimana-mana
Perubahan
sosial di dalam masyarakat dapat terjadi dimana saja, baik masyarakat kota
hingga di pedesaan. meskipun begitu, perubahan yang terjadi dapat berbeda-beda
antara tempat yang satu dengan yang lainnya.
Dalam perbedaan
ini, biasanya masyarakat tradisional lebih mengalami pola perubahan yang
lambat. Sebaliknya, masyarakat modern atau di perkotaan biasanya akan mengalami
perubahan yang cukp cepat.
Bentuk perubahan sosial
Perubahan ini terbentuk karena adanya
perbedaan-perbedaan pada masyarakat sekitar, meskipun demikian setiap bentuk
perubahan tersebut akan sulit dibedakan dalam batas garis yang jelas karena
setiap bentuk perubahan akan saling berkaitan satu sama lain. Berikut beberapa
bentuk dari perubahan sosial.
1. Perubahan kecil dan besar
Bentuk-bentuk Perubahan sosial budaya yang selanjutnya adalah
perubahan besar dan kecil. Bentuk perubahan yang satu ini juga akan menimbulkan
dampak bagi masyarakat. Dalam perubahan besar,
proses industrialisasi mengubah masyarakat agraris menjadi masyarakat industri.
Sedangkan contoh perubahan kecil adalah perubahan gaya berpakaian di masyarakat
karena adanya pengaruh dari luar.
2. Perubahan struktural
Perubahan struktural merupakan sebuah perubahan mendasar yang terjadi di
lapisan masyarakat. Perubahan ini dapat mempengaruhi kehidupan di dalam
masyarakat secara keseluruhan. Salah satu
contoh perubahan struktural adalah adanya perubahan sistem pemerintahan dari
berbentuk monarki menjadi negara Republik.
3. Perubahan cepat dan lambat
Perubahan cepat
merupakan salah satu bentuk materi perubahan sosial yang terjadi dengan sangat
cepat, dan biasanya disebut dengan revolusi. Sedangkan untuk perubahan lambat
merupakan sosial
change yang membutuhkan waktu lama untuk membentuknya. Perubahan ini
mengikuti perkembangan usaha dari masyarakat untuk menyesuaikan diri terhadap
perubahan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
4. Perubahan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki
Perubahan yang dikehendaki (intended change) merupakan perubahan sosial yang sudah direncanakan
oleh anggota masyarakat. Sedangkan, perubahan yang tidak ditentukan (unintened
change) adalah perubahan sosial yang terjadi di masyarakat tanpa adanya
perencanaan terlebih dahulu. Sebenarnya, perubahan sosial yang terjadi di
tengah masyarakat saat ini sangat beragam. salah satu contoh paling mudah
adalah perubahan cara manusia berkomunikasi jarak jauh. Jika pada zaman dahulu
manusia berkomunikasi jarak jauh dengan menggunakan surat, telepon rumah dan
sebagainya. saat ini kebanyakan masyarakat sudah menggunakan telepon genggam
untuk berkomunikasi.
https://belajargiat.id/perubahan-social/faktor-pendorong
https://belajargiat.id/perubahan-social/faktor-penghambat
https://belajargiat.id/perubahan-social/bentuk/
https://belajargiat.id/perubahan-social/karakteristik/
https://www.kajianpustaka.com/2019/10/pengertian-bentuk-proses-dan-penyebab-perubahan-sosial.html
[1]
Piotr Sztompka, ‘Sosiologi Perubahan
Sosial = the Sociology of Social Change / Piotr Sztompka ; Alimandan,
Translator’, Universitas Indonesia Library (Kencana Prenada Media, 2014)
<http://lib.ui.ac.id> [accessed 8 June 2021].
[2] Berliana Kartakusumah, Pemimpin adiluhung: genealogi kepemimpinan
kontemporer (Teraju, 2006).
[3] M. Misbakhul Munir, ‘MENGEMBANGKAN KEMANDIRIAN PETANI MELALUI KELOMPOK TANI
SUMBER MAKMUR DI DUSUN CABEAN DESA CABEAN KECAMATAN CEPU KABUPATEN BLORA’
(unpublished undergraduate, UIN Sunan Ampel Surabaya, 2015)
<http://digilib.uinsby.ac.id/3769/> [accessed 7 June 2021].
[4]
Munir.
[5]
Nanang Martono, Sosiologi Perubahan
Sosial: Perspektif Klasik, Modern, Posmodern, dan Poskolonial (Sampel halaman)
(RajaGrafindo Persada Jakarta, 2012).
[6]
M. Tahir Kasnawi and Sulaiman
Asang, ‘Konsep Dan Pendekatan Perubahan Sosial’, Diaksesdari Http://Www.
Pustaka. Ut. Ac. Id/Lib/Wpcontent/Uploads/Pdfmk/IPEM4439-M1. Pdfpada, 3
(2016).
Menurut Talcott Parsons dan Willbert E. Moore, teori tentang
masyarakat dan perubahan sosial tidak dapat dipisahkan. Namun juga harus diakui
bahwa tidak ada satu teori perubahan sosial yang benar-benar mencukupi untuk
membaca perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Social
change diakibatkan karena terjadinya perubahan keseimbangan pada
suatu masyarakat yang dipengaruhi oleh beberapa unsur penting yang ada,
seperti: biologis, geografis, ekonomi, dan unsur lainnya.
Pengertian
Perubahan sosial
dapat dibayangkan sebagai perubahan yang terjadi di dalam atau mencakup sistem
sosial. Adapaun perbedaan antara keadaan sistem tertentu dan jangka waktu berlainan.[1]
Perubahan ini disebabkan oleh tiga faktor utama yakni perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi (Iptek), faktor kependudukan, faktor ekologi dan
lingkungan sekitar.[2] Setiap saat masyarakat selalu mengalami
perubahan. Ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan sosial
yang ada, dimana manusia selalu tidak puas dengan apa yang telah dicapainya.
Oleh karena itu manusia selalu mencari sesuatu agar hidupnya lebih baik. Beberapa
ahli juga memiliki pandangan mengenai pengertian perubahan sosial ini berikut.
1. William F. Ogburn
Ditekankan oleh Ogburn bahwa perubahan sosial
ini terjadi karena kebudayaan material mempunyai pengaruh besar terhadap
kebudayaan immaterial sehingga terjadilah perubahan ini.
2. Kingsley Davis
Beliau menyatakan bahwa perubahan sosial
merupakan suatu perubahan dalam struktur dan fungsi masyarakat.
3. Gillin
Gillin mengemukakan bahwa perubahan sosial
merupakan suatu variasi atau sesuatu lain yang timbul dari cara hidup yang
telah diterima. Dimana sesuatu yang baru tersebut dapat disebabkan perubahan
dalam kondisi geografis maupun penduduknya.
4. Samuel Koenig
Perubahan sosial dapat
pula mempunyai pengertian sebagai adanya modifikasi-modifikasi
faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi kehidupan manusia
5. Selo Soemarjan
menyatakan bahwa
perubahan sosial mencakup semua aspek perubahan dalam lembaga suatu masyarakat
yang dapat mempengaruhi sistem sosial termasuk nilai, sikap dan pola perilaku
kelompok dalam masyarakat tersebut. Ia menekankan bahwa perubahan sosial
terjadi pada lembaga masyarakat sehingga mempengaruhi struktur masyarakat yang
bersangkutan.
Secara umum ini dapat diartikan sebagai suatu proses pergeseran atu
berubahnya struktur tatanan pada masyarakat, meliputi pola pikir yang lebih
inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapatkan penghidupan yang
lebih bermartabat.[3]
Faktor pengaruh perubahan
sosial / terjadinya perubahan sosial
1.
Toleransi
Pada dasarnya,
toleransi merupakan sebuah sikap untuk saling menerima berbagai perbedaan
sebagai fakta sosial. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari aspek, cara
berpikir, hingga berupa tindakan. Jika masyarakat tidak dapat menerima bahwa
perbedaan itu ada, maka akan sulit baginya untuk dapat menjalin komunikasi
dengan golongan yang berbeda. Sikap toleransi atau menerima perbedaan dapat
diterapkan dengan menerima keberadaan penyimpangan sosial. Toleransi juga dapat
diartikan sebagai sikap terbuka. Dengan sikap saling terbuka tersebut
masyarakat lebih mudah untuk menciptakan perubahan sosial di masyarakat.
2.
Menghargai
Jika dalam masyarakat sudah mampu menghargai karya orang lain, maka
masyarakat tersebut telah menghargai inovasi-inovasi yang terjadi di dunia.
Pengakuan terhadap inovasi tersebut akan menjadikan setiap orang untuk terus
bergerak maju dan mengikuti perkembangan zaman. dalam tataran institusional,
perlindungan terhadap hak cipta adalah salah satu modal masyarakat untuk terus
berkembang. Pada akhirnya, menghargai karya orang lain dapat berupa memberikan
pengakuan terhadap karya orang lain. Dengan menghargai karya orang lain, dapat
memberikan pengaruh untuk memberikan pengaruh motivasi agar berkarya lebih.
Dengan begitu, masyarakat akan terbuka dan mudah untuk melakukan perubahan.
3.
Sistem pendidikan terbuka
Sistem pendidikan yang terbuka berorientasi pada perluasan wawasan serta
dapat menerima masukan-masukan dari pihak luar. Sistem pendidikan yang terbuka
biasanya terjadi di sekolah maupun universitas yang peka terhadap perkembangan
teknologi dan keadan sekitar. Contoh dalam faktor ini adalah bahasa Inggris
yang dijadikan sebagai bahasa ilmiah dunia. Hal tersebut berarti bahwa
komunikasi antar ilmuan di dunia menggunakan bahasa Inggris sebagai media
komunikasi. Saat ini juga seringkali kita menemukan sebuah institusi yang mulai
mengajarkan pendidikan bahasa Inggris bagi anak didiknya. Dengan kasus
tersebut, tidak menutup kemungkinan bahwa kedepannya bahasa ini akan menjadi
bahasa yang biasa digunakan di masyarakat. tentunya terjadi perubahan sosial
dalam contoh tersebut. Selain itu, kebijakan untuk menerapkan sistem pendidikan
yang terbuka ini menjadi faktor pendorong dalam mencapai perubahan sosial.
4.
Stratifikasi sosial
terbuka
Stratifikasi
sosial terbuka juga menjadi Faktor pendorong perubahan sosial. Salah satu
contoh dari stratifikasi terbuka adalah adanya pendidikan formal. Pendidikan
tersebut dapat mengangkat masyarakat ke lapisan atas dan mengangkat keluarga ke
lapisan lebih tinggi. Sebagai contoh, seorang anak petani yang lulus dengan
gelar sarjana dapat mengangkat derajat dirinya dan keluarga. Jika ia kemudian
bisa mendapatkan pemasukan berlipat-lipat maka mobilitas sosial akan terjadi.
Oleh karenanya, stratifikasi sosial terbuka dapat menciptakan peluang besar
terhadap terjadinya perubahan sosial.
5.
Orientasi masa depan
Faktor pendorong perubahan sosial terkait dengan visi dan misi yang hendak dicapai
di masa depan. Tanpa menggunakan acuan visi misi, maka tindakan ini hanya
berujung disorientasi. Sekelompok orang yang memiliki visi akan bertindak lebih
jauh di masa depan. Dalam orientasi masa depan seringkali mengandung unsur
perubahan.
6.
Penduduk heterogen
Faktor pendorong perubahan sosial
selanjutnya adalah penduduk yang heterogen. Masyarakat yang heterogen akan
mewujudkan adanya perbedaan. Semakin kompleks keberagaman yang terjadi di
masyarakat, semakin menjadi faktor perubahan sosial yang terjadi. Dibalik penduduk yang heterogen, terdapat
berbagai ide dan opini yang berbeda. Dengan keberagaman tersebut maka ide dan
pendapat akan melahirkan inovasi-inovasi baru. Sebuah tatanan masyarakat yang
memiliki keseragaman cenderung memiliki kondisi yang statis yang mati. Dengan
adanya heterogenitas populasi akan menjadi faktor pendorong perubahan sosial
yang ada di masyarakat.
7.
Tidak puas kondisi
sekarang/saat ini
Masyarakat yang memiliki ketidakpuasan dapat mendorong untuk mencapai
perubahan. Masyarakat dalam golongan ini cenderung tidak ingin berlama-lama
tenggelam dalam rasa biosan. Pandangan ini sering disebut sebagai pandangan
naluriah karena rasa bosan akan dialami oleh siapa saja. Dengan rasa bosan
tersebut, masyarakat cenderung melakukan berbagai hal untuk menciptakan
perubahan dan keluar dari zona tersebut.
8.
Mudah menerima hal baru
Faktor ini sangat berkaitan dengan pengakuan
hasil karya yang sudah dijelaskan sebelumnya. Dengan adanya sikap untuk
menerima perbedaan, maka semakin mudah pula masyarakat tersebut untuk
menciptakan perubahan sosial.
Faktor yang menghambat
perubahan sosial
Perubahan sosial tidak
semulus realitanya dalam penerapannya. Perlu proses untuk menghadapi semua itu.
Cepat atau lambatnya perubahan ini juga dipengaruhi oleh masyarakat langsung.
Walaupun memiiki semangat yang tinggi dalam melakukan perubahan namun terdapat
juga penghambat di dalamnya. Berikut beberapa yang menjadikan penghambat perubahan sosial
1. Adanya rasa khawatir terhadap integrasi
masyarakat
Ada sebagian dari masyarakat yang takut dan khawatir terhadap terjadinya perubahan di masyarakat. Hal ini dikarenakan masyarakat tersebut beranggapan bahwa perubahan dapat menggoyahkan integrasi dalam masyarakat. Selain itu, perubahan yang terjadi di lapisan masyarakat dinilai dapat mengganggu tatanan sosial yang sudah berlangsung. Contoh ini adalah penggunaan traktor dalam mengolah lahan pertanian. Pada awalnya, penggunaan alat tersebut ditolak oleh masyarakat karena dianggap memudarkan asas gotong royong di antara petani. Namun seiring dengan perkembangan zaman, alat tersebut menjadi alat utama untuk membajak sawah.
2. Adat kebiasaan
Setiap masyarakat, khususnya di Indonesia, tentu memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda-beda. Kebiasaan atau adat istiadat merupakan sebuah pola perilaku anggota-anggota masyarakat dalam memenuhi kebutuhan. Adat istiadat dalam masyarakat tidak akan berubah ketika suatu saat timbul krisis adat dan kebiasaan. Dalam konteks ini, adat dan kebiasaan sudah tidak efektif digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakatnya. Dalam tatanan masyarakat, akan sangat sulit untuk merubah adat dan kebiasaan yang sudah terbiasa dilakukan atau dipakai. Hal ini tentunya juga menjadi faktor penghambat dalam mencapai perubahan sosial. Contohnya adalah kebiasaan masyarakat untuk menggunakan pisau yang terbuat dari kayu untuk memotong padi. Kebiasaan tersebut akan sulit untuk diubah meskipun sudah terdapat alat pemotong yang lebih canggih. Selain contoh tersebut, adat dan kebiasaan yang menjadi faktor penghambat lainnya biasanya berupa kepercayaan, cara berpakaian dan lain sebagainya.
3. Hambatan ideologis
Sebuah perubahan dalam masyarakat sulit tercapai jika berbenturan dengan ideologi atau paham yang diyakini oleh masyarakat tertentu. Hal tersebut tentunya karena setiap perubahan yang memiliki hubungan dengan kepercayaan atau keyakinan akan ditolak. Penolakan tersebut terjadi karena dianggap bertentangan dengan ideologi yang mereka anut. Contoh dalam hal ini adalah masyarakat yang mempercayai bahwa sebelum adanya pembangunan jalan raya, masyarakat harus mengadakan ritual terlebih dahulu. Namun terkadang terdapat pembangunan yang tidak melalui ritual tersebut. Nah bagi penganut ideologi tertentu, pembangunan tersebut akan ditolak karena tidak sesuai dengan paham yang mereka yakini.
4. Sikap tertutup masyarakat
Faktor penghambat perubahan sosial masyarakat juga dapat dipengaruhi oleh sifat masyarakat yang masih tertutup. Sikap konservatif atau tertutup merupakan sebuah ketakutan untuk menjalankan perubahan dan membawa mentalis yang buruk dalam menuju kemajuan. Hal tersebut disebabkan karena masyarakat tertutup menganggap bahwa setiap elemen yang datang dari luar sebagai ancaman. Sikap tertutup biasanya dimiliki oleh masyarakat yang sempat dijajah oleh bangsa lain. Masyarakat yang mengalami penjajahan akan menganggap bahwa setiap unsur yang berbau negara penjajah akan memberikan dampak negatif. Oleh karenanya, untuk mencapai perubahan sosial, masyarakat harus menghindari sikap konservatif atau tertutup.
5. Prasangka terhadap hal baru
Selain karena nilai-nilai kepentingan, sebuah prasangka yang buruk terhadap hal-hal yang baru juga dapat menjadi penghambat sebuah perubahan. Ketika ada hal baru yang datang, ada sebuah kekhawatiran dari sebagian masyarakat. Jika merasakan hal tersebut, sebagian masyarakat akan mempengaruhi kelompok lain untuk tidak menerima perubahan tersebut.
6. Kurangnya bersosialisasi/kurangnya membaur
dengan sekitar/ sulit beradaptasi
Manusia merupakan makhluk sosial sehingga selalu membutuhkan hubungan dan interaksi dengan manusia lainnya. Oleh karenanya, masyarakat yang memiliki sedikit hubungan atau interaksi dengan orang lain akan mengalami perubahan yang lambat. Hal ini tentunya karena masyarakat tersebut tidak mengetahui perkembangan masyarakat lain sehingga kurang memperkaya kebudayaan sendiri. masyarakat tersebut akan terkukung dengan budaya mereka sendiri sehingga memiliki pola pikir yang tradisional. Setelah membahas tentang faktor penghambat, tentunya sebuah perubahan juga memiliki faktor pendorong. Faktor pendorong ini tentunya akan mempercepat terjadinya perubahan sosial di lapisan masyarakat tertentu.
7. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat
Terlambatnya perkembangan ilmu di masyarakat dapat terjadi karena pergaulan masyarakat yang terbatas. Tidak adanya niat dan keinginan untuk menambah wawasan di bidang ilmu pengetahuan dapat berdampak terhadap perubahan sosial. Hal ini dapat diakibatkan karena pola pikir yang terbelakang. Selanjutnya pola pikir tersebut dapat memunculkan pandangan atau stigma terhadap adanya sekelompok masyarakat yang tidak menginginkan adanya perubahan.
8. Hakikat hidup
Seringkali kita menemukan sebuah masyarakat yang memiliki kepercayaan bahwa baik buruknya kehidupan telah diatur oleh yang maha kuasa. Dorongan akan terjadinya perubahan dan penghambat perubahan sosial juga selalu ada di setiap masyarakat. Kedua hal tersebut tergantung pada besar kecilnya kekuatan masyarakat dalam menanggapi setiap perubahan tersebut. Jika dorongan perubahan lebih kuat dibandingkan dengan hambatan, maka perubahan sosial dapat terjadi di masyarakat. Sebaliknya, jika hambatan di suatu masyarakat lebih besar dibandingkan dengan dorongan perubahan, maka perubahan sulit untuk terjadi.
9. Masyarakat bersikap tradisional
Kebanyakan sikap masyarakat yang masih memihak pada masa lampau karena menurut beberapa kelompok, masa tersebut memberikan beberapa kemudahan. Sebuah tradisi yang berlaku tersebut dijadikan sebagai warisan yang tidak dapat diubah dan harus dilestarikan. Pola pikir yang seperti ini akan menghambat sebuah perubahan sosial. Terutama bagi beberapa kelompok yang tertutup dan ingin bertahan dengan kepemimpinan masyarakat.
10. Kepentingan yang tertanam
Nilai-nilai tradisional yang sudah tertanam kuat dalam masyarakat akan menimbulkan
sebuah kepentingan-kepentingan kolektif. Hal ini juga dapat menghambat
terjadinya perubahan sosial. Hal ini karena pada hakikatnya suatu perubahan
akan meninggalkan nilai-nilai tradisional. Perubahan tersebut bertujuan untuk
mendapatkan nilai-nilai baru yang lebih bermanfaat dan lebih sesuai dengan
keadaan masyarakat. Oleh karenanya, untuk mendapatkan sebuah perubahan,
masyarakat harus berani untuk menghilangkan kepentingan tersebut.
Proses perubahan sosial
Kecepatan
proses dari perubahan sosial tersebut mungkin akan berlangsung cepat dalam
jangka waktu tertentu. Perubahan-perubahan sosial memang disengaja dan
dikehendaki. Oleh karenanya bersumber pada prilaku para pribadi yang didasarkan
pada kehendak-kehendak tertentu. Perubahan di masyarakat senantiasa terjadi.
Perubahan tersebut dapat diketahui dengan membandingkan keadaan masyarakat
dalam satu waktu dengan keadaan yang lampau. Menurut Bertrand (1980), proses
terjadinya perubahan sosial adalah sebagai berikut:
a.
Difusi
Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur
kebudayaan dari satu individu ke individu yang lain, dari satu golongan ke
golongan yang lain, atau dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Masuknya
unsur-unsur baru ke dalam suatu masyarakat dapat terjadi melalui:
· Pementasan
damai (penetration pacifique), yaitu masuknya unsur baru kedalam masyarakat
tanpa tanpa paksaan dan kekerasan. Misalnya masuknya kebudayaan islam ke
masyarakat Indonesia.
· Perembesan
dengan kekerasan (penetration violente), yaitu masuknya unsur baru kedalam
masyarakat yang diwarnai dengan paksaan dan kekerasan sehingga terkadang
merusak kebudayaan setempat.
· Simbiotik,
yaitu proses masuknya unsur-unsur kebudayaan ke atau dari dalam masyarakat yang
hidup berdampingan.
b.
Akulturasi
Akulturasi atau kontak kebudayaan merupakan
proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan
tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing sedemikian rupa
sehingga unsur-unsur kebudayaan tersebut lambat laun diterima dan diolah
kedalam kebudayaannya tanpa menghilangkan sifat khas kepribadian kebudayaan
asal.
c.
Asimilasi
Asimilasi adalah proses sosial tingkat lanjut
yang timbul apabila terdapat golongan-golongan manusia yang mempunyai latar
belakang kebudayaan berbeda saling berinteraksi dan bergaul secara langsung dan
intensif dalam waktu yang lama sehingga kebudayaan dari masing-masing golongan
tersebut berubah sifatnya dari yang khas menjadi unsur-unsur kebudayaan baru
yang berbeda dengan asalnya.
d.
Akomodasi
Akomodasi atau dikenal pula dengan sebutan
adaptasi. Akomodasi dapat berarti keadaan atau proses. Sebagai suatu keadaan,
akomodasi menunjuk kepada adanya keseimbangan dalam interaksi antara individu
dengan kelompok sehubungan dengan norma-norma dan nilai-nilai sosial yang
berlaku di masyarakat. Sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk kepada
usaha-usaha manusia untuk meredakan pertentangan-pertentangan atau usaha-usaha
untuk mencapai kestabilan sosial. Bentuk-bentuk akomodasi adalah sebagai
berikut:
· Konsoliasi,
merupakan pengendalian konflik melalui lembaga-lembaga tertentu yang
memungkinkan terjadinya difusi dan pengambilan keputusan diantara pihak-pihak
yang berlawanan mengenai persoalan-persoalan yang mereka pertentangkan.
· Mediasi, adalah
menunjuk pihak ketiga untuk memberikan nasihat-nasihat tentang bagaimana
caranya menyelesaikan pertentangan-pertentangan diantara golongan yang
bertikai.
· Arbitrasi,
pengendalian konflik dengan arbitrasi (perwasitan) hampir sama dengan mediasi
akan tetapi pihak yang bertikai dengan suka rela menerima putusan yang dibuat.
· Kompromi, yaitu
antara pihak yang bertikai saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu
penyelesaian masalah.
· Coercion,
merupakan bentuk pengendalian konflik yang dilakukan karena adanya paksaan.
Dalam hal ini salah satu pihak berada dalam keadaan lemah dari pihak lainnya.
Konsep perubahan sosial
Setiap lapisan
masyarakat pasti mengalami perubahan sosial. Adanya perubahan dan dinamika sosial
diakibatkan oleh interaksi manusia dan antarkelompok yang tidak bisa dihindari.
Perlu pemahaman juga
konsep perubahan sosial untuk menganalisi perubahan dinamika sosial ini, berikut
konsep terkait[4]
1. Internalisasi
Seorang manusia belajar
untuk menanamkan segla perasaan, hasrat, nafsu, dan emosi selama berkehidupan
2. Sosialisasi
Proses individu manusia dari
masa muda atau kanak-kanak hingga masa tuanya mempelajari tentang pola tindakan
untuk berinteraksi dengan sekelilingnya sehingga bisa memposisikan dirinya sebagai
peranan sosial di masyarakat.
3. Enkulturasi
Proses dimana individu
tersebut dalam mempelajari dan menyesuaikan pikiran serta sikapnya dengan adat
istiadat, sistem norma, dan etika yang hidup dalam kebudayaan sekitarnya. Tindakan
ini dilakukan dengan meniru sekitarnya dan menjadikan sebagai kebiasaan yang
dibudayakan.
4. Difusi
Suatu penyebaran unsur
kebudayaan dan sejarah sehingga ke manca negara. Proses ini juga terjadi
seiringan dengan pertukaran sosial antar individu manusia / kelompok di muka
bumi.
5. Akulturasi
Kegiatan ini timbul ketika
individua tau kelompok masyrakat bertemu dengan kebudayaan terterntu dengan
unsur budaya asing namun dengan berjalannya waktu ini akan menjadi suatu
kebudayaan baru dan akan diterima oleh masyarakat itu sendiri. Sederhananya ini merupakan percampuran antara dua
kebudayaan menjadi satu budaya.
6. Inovasi
Suatu proses pembaruan
dari penggunaan sumber alam, energi, dan modal, manajemen industri dengan
penggunaan teknologi baru yang akan menyebabkan adanya sistem produksi sehingga
menghasilkan suatu produk-produk baru.
Teori Klasik dan Modern tentang
Perubahan Sosial
Pendekatan pada teori klasik ini terdapat beberapa tokoh yang masuk dalam
kelompok ini, yakni[5]
1. Ibnu Khaldun : Masyarakat Badui versus masyarakat kota
2.
August Comte: Hukum Tiga Tahap
Comte memandang perubahan sosial suatu proses evolusi
yang bersumber pada proses perubahan secara bertahap dari daya pemikiran
masyarakat sendiri, evolusi intelektual. Secara lebih jelas Ia mengemukakan
adanya tiga tahapan perkembangan intelektual manusia yakni
a.
Theologis Primitif
Sebuah pemikiran manusia
langsung dikaitkan dengan hal-hal yang supernatural, atau yang alamiah.
Semua gejalayang terjadi dianggap sebagai
hasil dari tindakan langsung
dari hal-hal yang supernatural itu. Misal, banjir yang
terjadi secara terus-menerus pada suatu wilayah yang dipercayai sebagai hasil
kekuatan ghaib yang tidak disebabkan oleh perilaku manusia. Manusia percaya
bahwa ini kehendak dewa, dan mereka hanya pasrah menerima apa adanya.
b.
Metafisik Transisional
Tahap ini merupakan perkembangan selangkah dari tahap
pertama, theologis primitif. Dimana akal budi manusia tidak lagi mengaitkan langsung
setiap gejala dengan hal-hal supernatural, melainkan pada hal-hal yang
benar-benar nyata melekat pada semua benda. Dalam tahap ini hal-hal yang abstrak
dipersonifikasikan melalui benda-benda nyata, yang mampu menghasilkan
gejala-gejala yang berpengaruh pada kehidupan masyarakat. Seperti yang
dicontohkan pada tahap pertama manusia pasrah akan banjir secara beruntun yang
dianggapnya secara alamiah memang harusnya terjadi. Manusia pada tahap ini,
masih pasrah menerima kenyataan alam yang terjadi. Ini yang menyebabkan dalam tahap
ini, belum ada antisipasi atau pencegahan dalam mengantisipasi dampak negatif
dari adanya perubahan yang terjadi di dalam masyarakat.
c.
Positif Rasional
Akal budi manusia sudah memusatkan perhatiannya pada studi
tentang hukum-hukum alam. Pengamatan dan penalaran digabungkan dan merupakan dasar-dasar
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tahap positif adalah tahap yang paling sempurna dibanding dua
tahap sebelumnya yang dikemukakan oleh Comte. Tahap ini ditandai oleh kepercayaan
akan adanya data empiris sebagai sumber pengetahuan terakhir dan manusia berusaha
mengetahui factor penyebab tersebut. Misalnya, jika terjadi banjir secara rutin
di suatu perkampungan,
tentu ada faktor
penyebabnya, seperti hutan yang
telah gundul di daerah hulu, aliran sungai yang telah mendangkal, dan berbagai
penyebab lainnya.
3. Karl Marx : Menuju Masyarakt Komunis
Berbeda dengan Comte,
Marx berpendapat bahwa untuk memahami sosial bukanlah dengan ide-ide yang abstrak
dan perubahan dalam infrastruktur ekonomi masyarakat merupakan pendorong utama
dalam perubahan sosial. Dengan penekanan pada aspek struktur ekonomi masyarakat
masyarakat digolongkan ke dalam dua golongan utama atau kelas,
1) Kelas pekerja (proletar) menekankan kepentingan ekonominya untuk meningkatkan
kesejahteraan mereka sebagai imbalan dari tenaga dan waktu yang telah diberikan
dalam proses produksi.
2) Kelas pemilik modal (borjuis) yang berorientasi pada keuntungan
yang sebesar-besarnya (profit) dengan menekan biaya-biaya produksi.
Dengan demikian terjadilah pertentangan atau konflik kepentingan yang berkepanjangan.
Sebab setiap konflik akan mengarah pada bentuk kompromi tertentu, yang selanjutnya
akan menyongsong konflik-konflik baru yang selanjutnya menekankan kompromi.
Proses-proses inilah yang menjadi penggerak perubahan sosial.
4. Herbert Spencer: Menuju Masyarakat Heterogen
5. Emile Durkheim : pembagian Kerja dan Solidaritas Sosial
Menurut Durkheim setiap
masyarakat diikat oleh suatu nilai kebersamaan, yang kemudian dikenal dengan
konsep solidaritas. Mereka diikat oleh suatu jiwa atau hati nurani kolektivitas
masyarakat termasuk aktivitas perekonomiannya yang belum mengenal pengkhususan
atau spesialisasi. Pembagian kerja yang terjadi
hanya dirasakan pada perbedaan usia dan jenis kelamin. Dalam bukunya The
Division of Labour, Durkheim menguraikan bahwa semakin berkembang pembagian
kerja (diferensiasi dan spesialisasi) dalam masyarakat, semakin berkembang pula
semangat individualisme. Namun keragaman (heterogenitas) yang makin bertambah itu
tidaklah menghancurkan solidaritas sosial. Solidaritas organistik itu tumbuh
karena adanya saling ketergantungan antar masyarakat dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya. Seorang yang bekerja sebagai pekerja industri tentulah memerlukan
barang atau jasa-jasa yang dihasilkan
oleh pekerja lainnya untuk memenuhi kebutuhannya. Maka tercapailah saling ketergantungan
(interdependensi) antar bagian-bagian yang ada dalam masyarakat, yang ingin dipelihara
keutuhannya.
6. Ferdinand Tonnies : Gemeinschaft dan Gesellschaft
7. Max Weber : Perkembangan Rasionalitas Manusia
Dalam hubungan ini Weber
menguraikan terjadinya perubahan nilai di kalangan masyarakat yang secara
ortodox menganut paham Katolikisme yang dalam abad-abad pertengahan, orientasinya
cenderung menjauhkan masyarakat dari kegiatan
atau usaha untuk mengubah kondisi-kondisi kehidupannya. Nilai Katolikisme
seperti ini adalah bersifat legitimatedatau nilai etis pada masa itu. Oleh
karena itu, kemungkinan terjadinya perubahan dalam kehidupan masyarakat
tergantung dari adanya perubahan nilai-nilai yang dianut oleh sebagian besar warga
masyarakat yang bersangkutan. Salah satu asumsi penting Weber, bahwa agama merupakan
sumber utama dari nilai-nilai dan cita-cita yang berkembang keseluruh aspek
kehidupan manusia. Meskipun dalam konteks ini Weber justru berpendapat bahwa agama
merupakan faktor yang pada umumnya mendukung tradisi dan menentang
perubahan-perubahan Katolikisme di abad pertengahan tersebut. Proses perubahan nilai
dasar keagamaan inilah yang oleh Weber dijadikan penjelasan terhadap perubahan
sosial yang terjadi secara besar-besaran di kalangan masyarakat Eropa yang dikenal
sebagai konsentrasi pengamat agama-agama Kristen di dunia.
8. Talcot Parson : AGIL
9. Smelser : Faktor Independen
Terjadinya perubahan
sosial ini menjadi perhatian dari para ahli dari beberapa disiplin ilmu
lainnya. Terdapat pendekatan untuk menjelaskan fenomena perubahan sosial ini sebagaimana
berikut[6]
a. Pendekatan Ekuilibrium (Keseimbangan)
Prinsip pendekatan ini mengatakan
bahwa syarat kehidupan suatu masyarakat adalah adanya keseimbangan atau
Ekuilibrium diantara bagian-bagian yang terdapat didalamnya. Apabila ada faktor
yang masuk dalam mengganggu keseimbangan antar bagian-bagian tersebut akan
mengakibatkan terjadinya kegoncangan dalam kehidupan masyarakat. Dalam hak ini
manusia akan mengupayakan akan kesimbangan tersebut. Membicarakan perubahan
sosial dengan pendekatan ekuilibriumini, tokoh ilmuwan sosial yang tidak boleh dilewatkan
adalah Talcott Parsons. Sebenarnya teori Parsons mengenai perubahan sosial selain
dapat dikelompokan ke dalam pendekatan ekuilibrium, juga dapat di masukkan ke
dalam kelompok evolusi sosial (evolutionary approach) atau ke dalam
pendekatan sistem (system approach). Penekanan dasar
Parsons mengenai kehidupan masyarakat ialah adanya stabilisasi dan
keteraturan yang harmonis. Proses terjadinya perubahan sosial itu sendiri menurut
Parsons, tidak terlepas dari proses pemenuhan fungsi-fungsi masyarakat. Untuk menjelaskan
lebih lanjut proses perubahan itu, baiklah kita bahas 4 fungsi dasar yang harus
dipenuhi oleh setiap masyarakat atau setiap sistem sosial, agar masyarakat atau
sistem sosial yang bersangkutan dapat hidup berkembang.
1. Fungsi Penyesuaian Diri (Adaptation)
2. Fungsi Pencapaian Tujuan (Goal Attainment)
3. Fungsi Integrasi (Integration)
4. Fungsi Pemeliharaan
Pola Keseimbangan (Pattern Maintenance)
b. Pendekatan Modernisasi
Proses terjadinya
perubahan sosial berkorelasi dengan proses industrialisasi yang ditandai oleh
penemuan dan penggunaan alat-alat teknologi modern dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, sehingga
pendekatan ini lebih menekankan pada adanya faktor eksternal yaitu perkembangan
teknologi sebagai pendorong utama
berlangsungnya perubahan sosial. Beberapa tokoh ilmu sosial, khususnya
sosiologi dapat dikemukakan sebagai penganut utama pendekatan ini, diantaranya
adalah Neil Smelser, Wilbert More dan
Marion Levy. Acuan yang menjadi dasar perkembangan
masyarakat menurut mereka adalah pembangunan ekonomi. Tahapan pembangunan
ekonomi tersebut disesuaikan dengan faktor-faktor sumber daya yang dimiliki serta
teknologi yang dapat digunakan. Teknologi itu sendiri berkembang sesuai dengan
perkembangan kecerdasan dan akal budi manusia. Aspek sosial yang terkait dengan
kegiatan ekonomi sederhana ini ialah kehidupan masyarakat yang masih kurang didiferensiasi atau kurang terspesialisasi.
Karena tidak ada spesialisasi, maka satu
unit rumah tangga dapat melakukan banyak kegiatan yang langsung berkaitan
dengan berbagai aspek kehidupan mereka misalnya, sebuah unit
rumah tangga petani, juga berfungsi melaksanakan pendidikan dasar bagi
anak-anak serta berfungsi penuh dalam perawatan kesehatan anggota keluarganya.
Kemajuan ilmu pengetahuan memungkinkan untuk melahirkan alat-alat teknologi modern
yang pada gilirannya memberikan mereka kegiatan utama. Dengan demikian
terjadilah proses modernisasi yang bergandengan dengan pembangunan ekonomi,
yang kemudian dikenal dengan proses industrialisasi. Dalam perkembangan yang
demikian itu, di mana faktor pembangunan ekonomi dan industrialisasi yang menjadi
sumbernya, terjadilah proses perubahan sosial yang ditandai oleh perubahan dari
berbagai aspek.
c. Pendekatan Konflik
Kebangkitan kembali teori
konflik dalam versi modern dimunculkan oleh tokoh-tokoh seperti R.Dahrendorf,
John Rex, dan D. Lockwood, sejak tahun 1960-an. Mereka pada dasarnya mengembangkan dan mempertahankan
konsep konflik sebagai penggerak perubahan sosial. Akan tetapi mereka pun
menolak beberapa aspek pemikiran Marx terutama yang menyangkut pandangan metafisiknya.
Dalam pendekatan konflik versi modern ini Dahrendorf dan kawan-kawannya membahas fenomena konflik sosial dan konteks
pemikiran struktural fungsional. Untuk jelasnya, dibawah ini akan diuraikan proses
perubahan sosial dalam lingkungan konsep struktural fungsionalisme menurut pendekatan
konsensus /ekuilibrium dan menurut pendekatan konflik.
1. setiap masyarakat merupakan suatu konfigurasi antar unsur-unsur yang
relatif bertahan lama
2. setiap masyarakat merupakan suatu konfigurasi antar unsur-unsur yang
berintegrasi secara baik
3. setiap unsur (elemen) dalam masyarakat memberikan kontribusi yang
proporsional terhadap berfungsinya masyarakat itu.
4. setiap masyarakat bertahan diatas konsensus anggota-anggotanya.
Dengan demikian perubahan sosial akan terjadi
apabila unsur-unsur di dalam sistem atau
di dalam masyarakat berubah, serta mengganggu ekuilibrium masyarakat, lalu
bagian-bagian yang lain pun secara bertahap dan dalam suasana konsensus akan
menyesuaikan diri. Dalam konteks ini, penganut pendekatan konflik mengemukakan pendapat bahwa:
1)
setiap masyarakat setiap saat
merupakan subjek perubahan. Jadi
perubahan sosial itu sifatnya endemik, atau ada di mana-mana.
2)
setiap masyarakat pada
setiap saat mengalami konflik sosial. Jadi konflik sosial itu sifatnya ada di
mana-mana
3)
setiap unsur (elemen) dalam masyarakat memberikan kontribusi
yang proporsional terhadap perubahannya sendiri.
4)
setiap masyarakat berada di atas ancaman sebagai anggota
masyarakat oleh yang lainnya (sebagai potensi konflik yang berlangsung terus). Dalam menguraikan lebih lanjut proses konflik
sosial yang mendorong terjadinya perubahan sosial, Dahrendorf menyatakan:
a.
Pada setiap masyarakat, terdapat dua kelompok yang
masing-masing menampilkan peranan positif dan peranan negatif. Keduanya mendapatkan
peranan pada kepentingannya masing-masing yang saling bertentangan. Kelompok yang
berkepentingan untuk mempertahankan keadaan yang ada sekarang (statusquo)
dianggap menampilkan peranan positif, sementara kelompok yang berkepentingan untuk
mengadakan perubahan dalam masyarakat, dianggap menampilkan peranan negatif.
b.
Dengan demikian dalam setiap masyarakat terdapat
kelompok-kelompok kepentingan atau interst groups
c.
Kelompok-kelompok kepentingan (interst group) ini akan berada
dalam suasana konflik terus-menerus dalam memperjuangkan terjadinya perubahan
ataukah tetap dipertahankannya statusquo.
d.
Bentuk maupun intensitas konflik antar kelompok tersebut
ditentukan oleh kondisi-kondisi empiris yang dialami masyarakat.
e.
Konflik diantara kelompok-kelompok kepentingan inilah yang
akan mengarahkan masyarakat ke dalam suatu perubahan dalam struktur dan
hubungan-hubungan sosial, melalui perubahan-perubahan pada aspek-aspek hubungan
masyarakat yang dominan.
Inti dari pandangan pendekatan konflik ini bahwa masyarakat sebagai suatu
sistem sosial bukanlah suatu kelompok yang terintegrasi harmonis dalam arti
mengikatkan diri pada suatu sistem nilai yang sama. Konflik yang terus-menerus
terjadi diantara keduanya menurut teori ini akan membawa masyarakat ke dalam perubahan
sosial tergantung faktor yang mempengaruhi masing-masing kelompok.
Macam perubahan sosial
Ada banyak teori in yang
berkembang di masyarakat. Terdapat macam-macam teori berikut
1. Teori konflik
Menurut teori konflik
karena adanya pertentangan yang terjadi di dalam suatu masyarakat. Teori
konflik ini dipengaruhi oleh pemikiran Ralf Dahrendord serta Karl Marx. Konflik
ini dimulai dari perselisihan antar kelompok yang merasa ditindas oleh penguasa
sehingga menimbulkan sebuah perubahan. Berdasar teori ini, perubahan yang
terjadi terus menerus selalu berdampingan dengan konflik sosial. Adapun point
pentingnya antara lain:
1.
Semua masyarakat berada di
titik konflik serta ketegangan.
2.
Semua masyarakat akan
mengalami perubahan terus menerus.
3.
Semua elemen masyarakat menunjang terjadinya
suatu perubahan.
4.
Kestabilan sosial
dipengaruhi oleh tekanan antar kelompok masyarakat.
Teori ini beranggapan bahwa masyarakat hidup dalam
dualisme kelas yang terbagi atas kelas borjuis dan kelas proletar. Adanya
dualisme kelas tersebut akhirnya menjadi pemicu terjadinya konflik sosial dalam
wujud revolusi sosial yang berdampak pada perubahan-perubahan sosial. Contohnya
Revolusi Perancis yang terjadi pada abad ke-18.
2. Teori evolusi
Berdasarkan teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin serta
dipengaruhi dari pemikiran miliki Herbert Spencer, proses dari perubahan ini
bisa terwujud melalui proses waktu yang panjang secara perlahan dan harus
melewati setiap step hingga ke titik perubahan tersebut. Teori ini beranggapan
bahwa perubahan sosial terjadi akibat perubahan cara pengorganisasian
masyarakat, sistem kerja, perkembangan sosial, dan sistem kerja. Di dalam teori
ini perubahan sosial dibedakan menjadi menjadi dua jenis, yaitu revolusi dan
evolusi. Revolusi merupakan perubahan sosial
yang terjadi secara cepat, misalnya revolusi politik. Sedangkan evolusi
merupakan perubahan sosial yang terjadi secara lambat, misalnya peralihan
penggunaan bahan bakar minyak menuju bahan bakar gas.
3. Teori siklus / siklis
Teori siklus ini
dicetuskan oleh Arnold Toynbee dan Oswald Spenger. Menurut mereka dalam
teori ini, setiap perubahan di dalam masyarakat tidak bisa dikendalikan secara
penuh oleh siapapun karena adanya sebuah siklus yang harus dilakukan atau
dipenuhi. Menurut
mereka, proses social change ini seperti proses pada berkembangan
manusia, dimulai dari anak, remaja, dewasa kemudian menjadi tua. Dilansir dari
buku Pengantar Ringkas Sosiologi (2020) karya Elly M. Setiadi, teori ini
menggambarkan bahwa perubahan sosial bagaikan roda yang sedang berputar.
Maksudnya adalah perputaran zaman merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakan
oleh siapapun dan tidak dapat dikendalikan oleh siapapun. Menurut teori ini,
kebangkitan dan kemunduran peradaban sebuah bangsa mempunyai hubungan
korelasional antara satu dengan lainnya, yaitu tantangan dan tanggapan.
Misalnya, apabila kehidupan masyarakat mampu merespon tantangan kehidupan dan
mampu menyesuaikan diri, maka masyarakat tersebut akan mengalami perkembangan
dan kemajuan. Sebaliknya, apabila masyarakat tersebut tidak mampu merespon dan
menyesuaikan diri terhadap tantangan, maka masyarakat tersebut akan mengalami
kemunduran, bahkan kehancuran.
4. Teori fungsional
Willliam Ogburn adalah orang yang memberikan ide mengenai
teori fungsional ini, menurutnya kecepatan perubahan yang terjadi bisa tidak
sama meskipun elemen-elemen dalam masyarakat terhubungan satu dengan yang lain.
Teori ini beranggapan bahwa perubahan sosial diakibatkan adanya ketidakpuasan
masyarakat karena kondisi sosial yang berlaku pada masa tertentu memengaruhi
pribadi mereka. setiap perubahan tidak selalu membawa perubahan pada semua
unsur sosial. Ada beberapa unsur sosial yang tidak ikut berubah. Unsur yang
tidak berubah tersebut akan mengalami ketertinggalan yang berakibat pada
kesenjangan kebudayaan. Misalnya, telepon umum dibuat agar masyarakat dapat
melakukan komunikasi menggunakan pesawat telepon dengan mudah. Akan tetapi,
perubahan tersebut tidak diikuti oleh perubahan pola sikap dan perilaku
masyarakat. Hasilnya, telepon umum tersebut dalam waktu singkat sudah tidak
berguna. Bahkan sebagian besar telepon umum yang sudah dipasang, koinnya dicuri
oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Karakteristik Perubahan Sosial
Tidak semua mayarakat bisa dikatakan sebagai perubahan sosial ini bisa
dikatakan perubahan sosial ketika terdapat ciri-ciri berikut:
1. Imitative
Perubahan yang
terjadi di masyarakat terjadi dengan mengikuti masyarakat yang lain. Hal ini
disebabkan karena setiap kelompok dalam masyarakat akan saling memiliki
pengaruh.
Selain itu, antara kelompok masyarakat yang satu dengan lainnya tidak dapat saling memisahkan atau mengisolir diri. Contohnya adalah perubahan yang terjadi dalam bentuk gaya berbusana, potongan rambut, dan lain sebagainya.
2. Sengaja
Dilakukan
dengan sengaja, namun tidak menutup kemungkinan pula bahwa perubahan sosial terjadi
secara tidak sengaja. Sebagai salah satu contoh perubahan ini adalah produsen
kendaraan bermotor.
Sebagai sebuah
produsen bermotor, pastinya akan mengembangkan inovasi kendaraan agar dapat
digunakan sebagai media transportasi yang lebih baik dan lebih cepat.
Meskipun begitu, kebanyakan masyarakat tidak membayangkan jika perubahan tersebut mempunyai dampak perubahan sosial yang lain.
3. Berkelanjutan
Sebuah perubahan sosial terjadi atau
berlangsung secara berkelanjutan. Hal tersebut menjelaskan bahwa masyarakat
akan selalu berubah baik dengan cara yang cepat maupun lambat.
Perubahan sosial terjadi sebagai bentuk konsekuensi dasar dari sifat manusia yang sudah terlahir sebagai makhluk sosial.
4. Hubungan kausalitas
Ciri perubahan
sosial dalam bentuk ini dapat terjadi karena aspek material maupun immaterial
dengan hubungan yang berupa timbal balik. Untuk lebih jelasnya, berikut ini
adalah penjelasan lebih lanjut tentang ciri perubahan sosial dengan hubungan
kausalitas.
Yang pertama
adalah disorganisasi sementara yaitu perubahan yang terjadi secara cepat.
Perubahan ini dapat menyebabkan disorganisasi atau kekacauan sementara.
Terkadang
perubahan juga menimbulkan kontroversi. Biasanya perubahan yang menyebabkan
kontroversi adalah perubahan yang terjadi secara tiba-tiba.
Dilihat dari
penggolongan watak manusia, perubahan dapat dibagi menjadi proses sosial, perubahan
struktur dan juga kelompok.
5. Terjadi dimana-mana
Perubahan
sosial di dalam masyarakat dapat terjadi dimana saja, baik masyarakat kota
hingga di pedesaan. meskipun begitu, perubahan yang terjadi dapat berbeda-beda
antara tempat yang satu dengan yang lainnya.
Dalam perbedaan
ini, biasanya masyarakat tradisional lebih mengalami pola perubahan yang
lambat. Sebaliknya, masyarakat modern atau di perkotaan biasanya akan mengalami
perubahan yang cukp cepat.
Bentuk perubahan sosial
Perubahan ini terbentuk karena adanya
perbedaan-perbedaan pada masyarakat sekitar, meskipun demikian setiap bentuk
perubahan tersebut akan sulit dibedakan dalam batas garis yang jelas karena
setiap bentuk perubahan akan saling berkaitan satu sama lain. Berikut beberapa
bentuk dari perubahan sosial.
1. Perubahan kecil dan besar
Bentuk-bentuk Perubahan sosial budaya yang selanjutnya adalah perubahan besar dan kecil. Bentuk perubahan yang satu ini juga akan menimbulkan dampak bagi masyarakat. Dalam perubahan besar, proses industrialisasi mengubah masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Sedangkan contoh perubahan kecil adalah perubahan gaya berpakaian di masyarakat karena adanya pengaruh dari luar.
2. Perubahan struktural
Perubahan struktural merupakan sebuah perubahan mendasar yang terjadi di lapisan masyarakat. Perubahan ini dapat mempengaruhi kehidupan di dalam masyarakat secara keseluruhan. Salah satu contoh perubahan struktural adalah adanya perubahan sistem pemerintahan dari berbentuk monarki menjadi negara Republik.
3. Perubahan cepat dan lambat
Perubahan cepat merupakan salah satu bentuk materi perubahan sosial yang terjadi dengan sangat cepat, dan biasanya disebut dengan revolusi. Sedangkan untuk perubahan lambat merupakan sosial change yang membutuhkan waktu lama untuk membentuknya. Perubahan ini mengikuti perkembangan usaha dari masyarakat untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
4. Perubahan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki
Perubahan yang dikehendaki (intended change) merupakan perubahan sosial yang sudah direncanakan
oleh anggota masyarakat. Sedangkan, perubahan yang tidak ditentukan (unintened
change) adalah perubahan sosial yang terjadi di masyarakat tanpa adanya
perencanaan terlebih dahulu. Sebenarnya, perubahan sosial yang terjadi di
tengah masyarakat saat ini sangat beragam. salah satu contoh paling mudah
adalah perubahan cara manusia berkomunikasi jarak jauh. Jika pada zaman dahulu
manusia berkomunikasi jarak jauh dengan menggunakan surat, telepon rumah dan
sebagainya. saat ini kebanyakan masyarakat sudah menggunakan telepon genggam
untuk berkomunikasi.
https://belajargiat.id/perubahan-social/faktor-pendorong
https://belajargiat.id/perubahan-social/faktor-penghambat
https://belajargiat.id/perubahan-social/bentuk/
https://belajargiat.id/perubahan-social/karakteristik/
https://www.kajianpustaka.com/2019/10/pengertian-bentuk-proses-dan-penyebab-perubahan-sosial.html
[1]
Piotr Sztompka, ‘Sosiologi Perubahan
Sosial = the Sociology of Social Change / Piotr Sztompka ; Alimandan,
Translator’, Universitas Indonesia Library (Kencana Prenada Media, 2014)
<http://lib.ui.ac.id> [accessed 8 June 2021].
[2] Berliana Kartakusumah, Pemimpin adiluhung: genealogi kepemimpinan
kontemporer (Teraju, 2006).
[3] M. Misbakhul Munir, ‘MENGEMBANGKAN KEMANDIRIAN PETANI MELALUI KELOMPOK TANI
SUMBER MAKMUR DI DUSUN CABEAN DESA CABEAN KECAMATAN CEPU KABUPATEN BLORA’
(unpublished undergraduate, UIN Sunan Ampel Surabaya, 2015)
<http://digilib.uinsby.ac.id/3769/> [accessed 7 June 2021].
[4]
Munir.
[5]
Nanang Martono, Sosiologi Perubahan
Sosial: Perspektif Klasik, Modern, Posmodern, dan Poskolonial (Sampel halaman)
(RajaGrafindo Persada Jakarta, 2012).
[6]
M. Tahir Kasnawi and Sulaiman
Asang, ‘Konsep Dan Pendekatan Perubahan Sosial’, Diaksesdari Http://Www.
Pustaka. Ut. Ac. Id/Lib/Wpcontent/Uploads/Pdfmk/IPEM4439-M1. Pdfpada, 3
(2016).
Komentar
Posting Komentar