INDUSTRI BISNIS MEDIA MASSA “JAWA POS” DALAM MENGHADAPI ERA DIGITAL
UJIAN AKHIR SEMESTER
MEDIA, TEKNOLOGI DAN
MASYARAKAT
Dosen Pengampu:
Ariza Qurrata Ayyun,
M.Med.Kom
Oleh :
Syifa’ Yahyania Awim
Tasya
(04020520085)
INDUSTRI BISNIS MEDIA MASSA “JAWA POS” DALAM MENGHADAPI ERA DIGITAL
Media massa merupakan sebuah saluran resmi yang berguna untuk menyebarkan
pesan atau berita kepada seluruh masyarakat dengan menggunakan alat- alat
komunikasi. Adanya media alat komunikasi ini yakni berguna untuk memberikan
pesan dengan cepat, efisien dan secara serentak kepada audiens secara luas.
Media massa ini memiliki fungsi untuk menyampaikan informasi, mendidik, dan
menghibur. Media massa ini terdiri dari media cetak, radio dan televisi. Namun,
seiring perkembangan teknologi, dan muncul kehadiran internet. Media massa ini
berkembang dan beroperasi juga di ranah online.
Hal ini disebabkan karena
media internet lebih cepat dan mudahnya dalam memperoleh dan menyampaikan
informasi. Munculnya era teknologi digital dengan berbasis internet saat ini,
membuat media cetak, radio, televisi pun nyaris terancam dengan kehadiran media
internet dan mereka harus segera membenahi diri. Dalam mempertahankan media
massa yang telah dijalankan, diperlukan untuk menyesuaikan gelombang baru
globalisasi dan melakukan revolusi besar. Inovasi-inovasi yang dapat diterapkan
yakni dengan membuat media yang lebih praktis dan efisien ketika digunakan oleh
masyarakat. Tidak hanya mampu mempertahankan medianya namun juag menghadapi
tantangan persaingan pangsa pasar media lain. Dengan begitu diharapkan dapat
mampu bertahan menghadapi perkembangan dan tetap memiliki eksistensi di mata
masyarakat.
Konglomerasi juga menambah
kemungkinan para pemilik media massa untuk melakukan hegemoni melalui media
yang mereka miliki. Banyaknya cabang bisnis yang dimiliki oleh suatu grup media
membuat konten dengan kepentingan pemilik terdistribusi di saluran yang lebih
banyak. Berbagai macam platform yang dimiliki oleh pemilik media massa dalam
satu grup memungkinkan konten dapat diterima lewat berbagai macam bahasa dengan
kepentingan yang sama. Ragam bahasa (medium) yang dikuasai oleh pemilik media
membuat wacana yang muncul di masyarakat dibentuk sedemikian rupa melalui
elaborasi dari media massa multiplatform tersebut.
Adanya perubahan ladscape media ini membuat para pemilik media mencari cara untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat untuk bisa tetap menikmati informasi yang mereka bagikan. Media Massa di Indonesia, pada hari ini dikuasai oleh segelintir orang yang juga merupakan representasi dari suatu kelompok tertentu. Kepemilikan media massa di Indonesia juga hanya dikuasai oleh beberapa orang saja. Sehingga, medan media massa di Indonesia tidak bisa lepas dari jerat konglomerasi media. Setiap grup memiliki lebih dari dua platform media, dan memiliki banyak media company. Hal ini tentu sangat sedikit, jika dibandingkan dengan total seluruh penduduk Indonesia dan luas wilayah geografis di Indonesia. Walaupun dengan begitu persaingan berbagai media ini sangatlah ketat apalagi dengan media internasional yang kini sudah dapat digapai melalui internet secara mudah. Dimana di era digital ini, masyarakat dapat memilih berbagai macam pilihan medium yang ingin mereka akses. Seperti halnya Jawa pos yang saya paparkan berikut ini.
JAWA POS GROUP
“Jawa Pos”
merupakan perusahaan yang berjalan di ranah media pers yang berpusat di
Surabaya, Jawa Timur. Menjadi perusahaan media tertua yang didirikan pada 1
Juli 1949 oleh The Chung Shen, perusahaan ini menaungi lebih dari 151 surat
kabar nasional. Pada awal berdirinya, perusahaan ini bernama “Java Pos“ dan
berganti menjadi Djawa Pos dan terakhir yakni Jawa Pos. Perusahaan ini juga
memiliki cabang usaha yakni (surat kabar daerah, tabloid, majalah, televisi,
radio, media online, percetakan, telekomunikasi, dan sebagainya). Berbagai
macam usaha yang dijalankan di perusahaan ini yang paling unggul dan diminati
masyarakat yakni surat kabar “Jawa Pos“, dimana media ini merupakan media yang
berjalan di bidang jurnalistik. Surat kabar ini juga dibagi menjadi beberapa
sesuai dengan wilayah edarnya (Radar Surabaya, Radar Gresik, Radar Bromo, Radar
Solo, dan lain-lain). Pembagian ini dimaksudkan agar informasi yang didapat dan
diberikan lebih luas lagi.
Pada media radio,
perusahaan ini memiliki stasiun radio yakni Fajar FM yang bertempat di gedung
Graha Pena, Makassar. Media lokal ini merupakan bentuk dari kelompok Fajar
Media dari induk Jawa Pos Media Corporation/JPMC Network yang didirikan pada
2007 (dengan nama perusahaan PT Jawa Pos Multimedia), jaringan ini mulai
merambah ke radio dan televisi sejak 2002. Pada 2009 saat itu sudah memiliki 15
stasiun televisi lokal di berbagai daerah. Pada 17 Agustus 2015, grup ini
meluncurkan siaran berjaringannya dengan nama Jawa Pos TV, yang beberapa
acaranya direlai oleh stasiun televisi lokal milik Grup Jawa Pos. Induk
jaringannya sendiri baru bersiaran pada tahun 2016, di Jabodatebek.
Sebagai grup
media cetak terbesar di Indonesia Jawa Pos Group juga pernah mengkhawatirkan
mengenai penurunan oplah. Peralihan pembaca menuju online readers menjadi suatu
bukti nyata adanya hal itu. Penurunan ini menunjukkan suatu keterpurukan
tersendiri bagi bisnis media cetak yang terjadi secara merata, tidak hanya pada
Jawa Pos saja. Dahlan Iskan, mengatakan ada tiga Faktor yang berkontribusi
besar terhadap penurunan oplah ini. Pertama, Kesalahan manajerial, ini mencakup
ketidakmampuan mengelola sumber daya manusia, jenjang Pendidikan karyawan,
penghasilan keuangan, dan apresiasi terhadap karyawan. Kedua, kualitas redaksi
rendah, dalam hal ini seorang jurnalis harus dapat memberanikan diri dalam
meningkatkan kualitas penulisan dengan memproklamirkan diri sebagai media cetak
dengan kasta tertinggi. Ketiga, kenaikan harga kertas, karena bahan baku kertas
sulit untuk didapatkan, jadi Dahlan memprediksi harga kertas akan terus naik. Semisal dibuat dari koran bekas pun juga akan
sulit karena penjualan koran pun kian menurun.
Namun, adanya persaingan dengan dunia digital saat ini. Jawa Pos Group dan
kelompok pemilik media memiliki tantangan yang serius, yakni digitalisasi. Pada
era ini, semua informasi yang didapatkan dan dibagikan sudah melalui media
platform online yang ada. Masyarakat kini juga semakin mudah dan cepat dalam
mengakses apa yang mereka inginkan.
TANTANGAN JAWA POS DALAM ERA DIGITAL
Pada media surat kabar ini memang memiliki tingkat keakuratan yang memadai. Media cetak memiliki tantangan tersendiri dalam era digital saat ini, keberadaannya telah terpinggirkan oleh media digital semakin meluas, dalam hal ini salah satunya adalah portal berita online. Kehadiran media elektronik membuat industri media cetak harus berusaha untuk meningkatkan penjualan sirkulasi untuk memberikan manfaat maksimal.
1. Media online menyampaikan berita secara cepat dan singkat. Sedangkan, koran atau surat kabar menyampaikan berita yang lebih kontekstual untuk pembacanya. Misalnya, kata dia, ketika terjadi sebuah peristiwa, media cetak akan mencoba menyampaikan secara perinci, mulai dari awal kejadian, penyebab, hingga langkah-langkah yang dilakukan untuk mengatasi peristiwa itu.
2. HOAX
Hal ini tidak menutup kemungkinan terjadi. Karena penyebaran informasi yang sangat cepat. Namun memang kelemahan dari media online ini yakni informasi yang dipertanyakan keakuratan sumbernya. Jika sedikit saja salah dalam memberikan pesan, itu akan menjadi informasi palsu dan akan ditindaktegas oleh pihak berwajib. Maka dari itu setiap jurnalis harus memberikan berita yang sumbernya sudah bisa dipercaya.
3. Minat baca rendah
Frekuensi membaca di indonesia dibandingkan dengan negara asing memang lebih rendah. Namun, menurut Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando mengungkapkan hasil Kajian Indeks Kegemaran Membaca yang dilakukan Perpusnas pada 2020 memberikan hasil minat baca Indonesia masuk dalam poin 55,74 atau sedang. Dengan hal ini masyarakat di indonesia perlu ditingkat kembali akan adanya kegemaran membaca yang dimulai sejak dini. Maka dari itu untuk memikat pembaca kalangan muda, Jawa Pos memberikan informasi yang disukai mereka dengan menempatkakn rubrik Fashion dan Zetizen di dalam surat kabarnya.
4. Alat Politik
Perihal media dengan politik ini memang sangat awas untuk diperbincangkan. Namun, memang realitanya betapa banyaknya sekarang media dijadikan alat politik. Dimana media ini akan berisi keperluan politik-politik sang pemilik kekuasaan. Independensi media ini akan mulai tergoncang. Tidak hanya menurunkan kepercayaan masyarakat, juga akan menurunkan kualitas isi media yang telah berjalan.
Koran atau media cetak tetap sangat dibutuhkan pembaca dan tak akan pernah hilang oleh zaman. Apalagi, bila media cetak itu mempunyai segmentasi khusus. Karena untuk menjangkau masyarakat yang ada di pedalaman atau pedesaan yang masih belum terjangkau dan susah internet.
STRATEGI DALAM MEMASARKAN PRODUK
Jawa Pos memang menjadi media massa cetak yang banyak digemari oleh masyarakat. Adanya tantangan yang dihadapinya dalam mempertahankan media cetaknya di era digital ini yakni :
1. Analisis berbagai strategi dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan penjualan. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan metode peramalan (forecasting). Dengan hal ini perusahaan dapat mengkaji pola cetak yang terjadi sebelumnya dan yang akan berpengaruh di masa datang. Keputusan ini di dasarkan oleh berbagai pertimbangan dan implementasi dari kebijakan sebelumnya.
2. Dalam persaingan produk media massa yang semakin penuh tantangan, Jawa Pos merupakan satu dari sekian banyak madia massa yang hingga kini terus bertahan dan berkembang di Indonesia. Hal ini didukung dengan pemuatan berita khusus kedaerahan dengan kolom “RADAR” yang menjadi strategi diversifikasi produk surat kabar Jawa Pos. Diversifikasi produk adalah upaya mencari dan mengembangkan produk atau pasar yang baru, atau keduanya, dalam rangka mengejar pertumbuhan, peningkatan penjualan, profitabilitas, dan fleksibilitas. Yang menjadi bagian penting dari diversifikasi produk adalah ragam produk, berupa koran Jawa Pos, Radar dan Sportaiment, dimana ada terdapat 16 koran Radar yang tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Bali. Kemudian Jawa Pos menerapkan cara pengembangan produk hasil diversifikasi, hubungan antar perusahaan dengan melakukan laporan pertanggujawaban koran-koran Radar kepada Jawa Pos, koordinasi, dan evaluasi, serta adanya konektifitas melalui portal internal yang membuat hubungan antar perusahaan tersebut lebih efektif.
3. Era konvergensi media saat ini, perusahaan penerbit surat kabar tak bisa hanya mengandalkan satu media. Misal, hanya koran atau sebatas pada media online. Walaupun isi beritanya sama, namun hal itu dapat mempertahankan kepercayaan masyarakat dalam menggunakan media tersebut.
4. Salah satu inovasi lainnya yakni berupaya merencanakan perwajahan setiap edisinya. Dengan perwajahan yang apik dan tidak monoton, jelas akan lebih menarik pembaca. Karena sebenarnya, saingan media cetak tidak hanya sesama media cetak, saat ini saingannya tidak hanya radio dan televisi tapi media sosial / online.
5. Tidak berhenti yang selalu harus berinovasi, media cetak juga harus mampu menyajikan berita lebih dari jenis media lainnya. Jika radio, televisi dan media online lebih mengutamakan kecepatan berita, koran justru bermain pada ketepatan dan pendalaman berita.
6. Media cetak memang menjadi sebuah penyalur informasi, namun sebelum informasi sampai di tangan audiens informasi ini akan sampai pada jurnalis atau wartawan. Dengan begitu wartawan diharuskan mampu meng-update dirinya sendiri, khususnya update informasi. Sebagai ujung tombak informasi, wartawan tidak boleh pernah merasa cukup informasi. Wartawan saat ini diwajibkan mampu menyerap semua info yang ada dari media platform manapun.
7. Wartawan ataupun jurnalis masa kini juga dituntut untuk mampu multitasking yakni mengerjakan berita untuk semua jenis media, baik cetak, radio, televisi maupun online.
Meskipun muatan konten nya sama, suatu media massa dapat melakukan pendekatan yang berbeda-beda dalam setiap platform yang digunakannya. Sirkulasi konten media melalui platform yang berbeda, menantang konsumen informasi untuk mencari informasi baru dan menghubungkan konten-konten yang disajikan melalui berbagai macam platform ini.
KESIMPULAN
Media massa merupakan sebuah medium untuk masyarakat dalam meperoleh informasi secara akurat, jelas, efisien. Semakin berkembangnya teknologi, khususnya di era digital ini media massa memiliki tantangan tersendiri. Media massa harus mampu memikat masyarakat dalam melihat, membaca dan mendengarkan informasi dari media yang mereka pilih dan percaya. Tidak lepas dari konglomerasi media, media massa juga harus mampu bersaing dengan perusahaan media lain dalam menyajikan informasi yang menarik. Dengan begitu media massa yang mereka kelola dapat bermanfaat dan diminati oleh masyarakat. Namun tidak mengurangi kualitas isi medianya.
Komentar
Posting Komentar