Perilaku - Perilaku Kolektif

Perilaku - Perilaku Kolektif 

Oleh : Syifa' Yahyania Awim Tasya 

04020520085

"Manusia selalu beriteraksi dengan manusia lainnya yang membentuk suatu lingkungan dan budaya. Interaksi yang dilakukan oleh masyarakat yang inilah menimbulkan sebuah kerumunan baru. Dengan bersifat spontan dan tidak tersusun dilakukan dengan tindakan bersama oleh sejumlah besar orang dan bukan individu saja"

TEORI PERILAKU KOLEKTIF


Pengertian

Kolektif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah secara gabungan. Sekumpulan pribadi yang bekerja sama untuk tujuan tertentu tanpa adanya hierarki di dalamnya, yang bisa berupa kelompok besar atau kecil, singkat maupun lama, dengan keanggotaan yang bersifat sukarela. Teori perilaku kolektif disebut juga teori gerakan sosial klasik. Teori ini muncul pada paruh pertama abad ke-20 dan menjadi teori awal berkembangnya teori gerakan sosial.

Ahli sosiologi Bruce J Cohen (1992) menggunakan istilah perilaku kolektif mengacu pada perilaku sekelompok orang yang muncul secara spontan dan tidak terstruktur sebagai respon emosional terhadap kejadian tertentu. Perilaku ini juga terjadi apabila cara-cara mengerjakan sesuatu yang telh dikukuhkan secara tradisional tidak lagi memadai. Individu-individu yang terlibat dalam perilaku kolektif tanggap terhadap rangsangan tertentu yg mungkin datang dari orang lain atau peristiwa khusus.[1] Menurut Smelser, perilaku kolektif adalah perilaku yang relatif spontan dan tidak terstruktur dari sekelompok orang yang bereaksi terhadap pengaruh umum.[2] Dengan demikian kita dapat membedakan antara perilaku kolektif dengan perilaku rutin, tidak terstruktur dan tidak stabil dari sekelompok orang yang bertujuan untuk menghilangkan rasa ketidakpuasan dan kecemasan.

Pembahasan ini difokuskan pada 2 tokoh yakni herbert blumer dan nelson. 2 tokoh ini memiliki tradisi keilmuan yang berbeda, karena blumer memiliki paradigma interaksionisme simbolik sementara nelson memiliki perspektif fungsionalisme struktural. Dan kedua pemikir ini memiliki pandangan kritis satu sama lain. Jadi pada dasarnya blumer dan nelson tidak disatukan oleh pandangan mereka terhadap fenomena gerakan sosial atau fenomena perilaku kolektif. Tetapi, mereka disatukan ketertarikannya untuk melakukan kajian terhadap perilaku kolektif.

Menurut Herbert Blumer (Behaviour) bersama dengan gurunya (Robert Ezra Park) mengembangkan teori perilaku kolektif dan memperkuat posisi teori perilaku kolektif dalam kajian ilmu sosial di universitas chicago. Blumer dan park meyakini bahwa kehidupan sosial diibaratkan dengan perilaku kolektif karena pada hakikatnya kehidupan sosial merupakan interaksi antara satu orang dengan orang lain di dalam keluarga, kelompok, dan komunitas. Blumer dan park memberikan perhatian pada interaksi ini karena dengan interaksi ini sebuah kelompok membangun dan melestarikan norma sosial yang mengatur orang-orang yang ada dalam kelompok sosial tersebut. Namun demikian dalam setiap kelompok ada individu-individu yang mengikuti norma-norma sosial yang berlaku (rule conformer) dan juga ada yang menentang norma sosial yang berlaku (rule breaking).

Teori perilaku kolektif memfokuskan pada kelompok yang menentang norma sosial yang berlaku tersebut yakni berperilaku dengan cara-cara yang tidak biasa atau konvensional. Bagi Blumer orang yg menentang tersebut yang menjadi pembuat aturan atau norma sosial baru (rule maker). Munculnya rule maker inilah yang membuat perubahan-perubahan. Contohnya dulu norma sosial menganggap bahwa peran dan tanggung jawab perempuan adalah melayani laki-laki, namun dengan adanya kelompok perempuan yang menentang nilai atau norma sosial tersebut kemudian memunculkan norma sosial baru tentang kesetaraan gender. Pada awalnya, perempuan-perempuan yang menentang norma tersebut dan membuat norma baru itu dianggap aneh atau gila karena bertentangan dengan tradisi, hukum, dan moral yang diyakini oleh masyarakat luas. Namun, pada saat ini banyak orang yang memiliki persetujuan dengan norma sosial yang mengedepankan kesetaraan gender.

 

Teori perilaku kolektif (crowd behaviour theory)

Teori ini dibagi menjadi beberapa teori, yakni

a.     Teori Convergen         : mengemukakan bahwa agrerat mewakili dengan berbagai kebutuhan, keinginan dan emosi yang memancing perilaku yang spontan dan yang sudah terkontrol sebelumnya. Dimana perilaku dari kerumunan disebabkan oleh kesepakatan. Tidak begitu saja ecara spontan yang sebelumnya sudah terkait dengan suatu pemikiran ynag sama. Orang yang tergabung dalam kerumunan sudah memiliki satu kesamaan pemikiran, sebelum bergabung pada kerumunan tadi.

Contoh: mahasiswa yang melakukan demo kepada pemerintah. Maka mahasiswa yang tergabung dalam kelompok atau kerumunan tersebut memiliki pemikiran atau informasi yang sama. Ada juga kesamaan usia (mahasiswa tersebut) yang tergabung dalam kerumunan.

 

b.     Teori Contagion (teori penularan)      : emosi dan perilaku dapat ditukar dari satu individu ke individu lainnya. Ketika seorang individu manusia terlibat dalam sebuah kerumunan (crowd), maka seseorang tersebut tidak bisa berpikir secara rasional. Lebih mengikuti situasi, kondisi, perilaku atau tindakan dalam kerumunan tersebut. Ketika seseorang masuk dalam kerumunan mereka bertindak secara irrasional.

Contohnya: orang yang terlibat dalam kerumunan Ketika melihat konser musik, keberadaanya yakni irrasional. Ketika pada konser tersebut terdapat orang yang bernyanyi atau menyanyikan lagu dan seseorang dalam kerumunan mengikuti alunannya dan ikut bernyanyi secara tanpa sadar. Sebuah situasi yang bersifat sikular, dimana Tindakan itu beredar dan menular kepada yang lain. Jamaah pengajian, jika mengucapkan kata tertentu maka akan diikuti orang lain.

C.    Teori Emergent Norm (Teori perkembangan norma) : tentang teori penggabungan konvergen. meskipun seeorang dating dalam pemahaman yang sama dalam sebuah kerumunan kemudian akan memunculkan tindakan baru yang melahirkan sebuah norma maka akan diikuti oleh seseorang yang ada pada kerumunan tersebut.

Contoh : sebuah demonstrasi tentu pasti ada kesepakatan antar demontsran yang hadir dalam tindakan demo untuk tidak melakukan kekerasan. Tapi dalam proses demo tersebut tiba-tiba ada seseorang yang melempar batu dan seseorang lain mengikuti atau menyepakati Tindakan tersebut hingga menjadi tawuran. Maka itu akan diikuti juga para demonstran yang ikut dalam kerumunan.

D.    Teori Value-Added (Teori Nilai Tambah)     : mengemukakan bahwa terdapat enam tahap penentu terjadinya perilaku kolektif. Dimana setiap tahapannya dipengaruhi oleh tahap sebelumnya dan kemudian mempengaruhi tahap berikutnya. Kondisi pokok yang memicu munculnya perilaku kolektif menurut teori value-added adalah

a.     Kesesuaian struktural

b.     Ketegangan struktural

c.     Berkembangnya kepercayaan umum

d.     Faktor yang mendahului

e.     Mobilisasi

f.      Kontrol sosial

Meskipun teori nilai tambah ini banyak mendapat kritik, sampai saat ini dapat dipandang sebagai salah satu teori klasik yang cukup resprensif untuk menjelaskan fenomena perilaku kolektif atau perilaku massa yang terjadi dalam suatu konteks sosial riil.

E.    Teori Interaksionis      : ketika orang lain dalam kerumunan, maka mereka akan “menghilangkan“ jati dirinya. Kemudian perilakunya akan menyesuaikan dan menyatu dengan jiwa di kerumunan massa tersebut.

Perilaku kolektif dapat berbentuk perilaku yang tersebar, kerumunan, dan gerakan sosial

a.     Perilaku kolektif yang tersebar : fashion, rumor, dan publik

b.     Kerumunan : casual, konvensional, ekspresif dan akting

c.     Gerakan sosial : mempunyai bentuk gerakan revolusioner, reformis, konservatif dan gerakan reasioner. Revolusi sosial termasuk dari contoh greakan sosial.

Konsep kunci dari teori perilaku kolektif menurut Herbert Blumer

1.     Masalah Sosial

Bagi Blumer kondisi kemalangan atau kesulitan hidup lainnya tidak menjadi masalah sosial kecuali jika seseorang menginterpretasikannya seperti itu. Oleh karena itu, masalah sosial ini bergantung pendefinisian seseorang atas masalah yang dihadapinya. Itulah sebabnya mengapa orang miskin, budak tidak serta merta menjadi pemberontak karena bisa jadi mereka tidak mendefinisikan kemiskinannya dan perbudakannya menjadi masalah sosial.

 

2.     Keluhan atas perlakuan tidak adil

Situasi ini terjadi ketika kehidupan normal seseorang itu terganggu sehingga mereka tidak dapat menuruti ketentuan norma sosial yang berlaku. Munculnya situasi atau keluhan tidak adil tersebut disebabkan oleh dua hal yaitu adanya perampasan dan peminggiran. Adanya peminggiran atau keadaan seseorang yang terisolasi atau terputus dari orang lain maupun dia terpinggirkan dari institusi-institusi sosial. Misalnya ketika seseorang mengalami broken home juga seseorang yang hidup dalam komunitas yang serba individualis dan tidak memiliki rasa kebersamaan dalam komunitas. Mereka yang mengalami peminggiran atau marginalisasi ini akan merasa kosong, frustasi dan tidak bermakna. Orang-orang yang merasa seperti itu sama seperti konsep Mass Society yang disebutkan oleh Hannah anrendt, eric, dan Karl Manheim. Mass society adalah kondisi masyarakat modern yang mengalami keterputusan sosial secara meluas. Mass society terjadi ketika keluarga dan komunitas digantikan oleh negara, pasar yang memiliki sifat sangat birokratis, formal, dan impersonal.

 

3.     Agitasi dan agitator

Agitasi adalah proses mempengaruhi presepsi orang tentang kehidupan sosial mereka sedangkan agitator adalah orang yang mempengaruhi presepsi orang tentang kondisi sosial yang penuh penderitaan sebagai masalah sosial.

Agitasi dan agitator ini menjadi relevan dalam pandangan blumer ketika masalah sosial tergantung pada interpretasi atau definisi seseorang. Misalnya, seorang agitator mempengaruhi orang yang kehidupan malang dan tidak menginterpretasikan bahwa kemalangannya itu sebagai masalah sosial untuk mengubah presepsinya bahwa kemalangan hidupnya itu adalah masalah sosial dan agitasi dalam pandangan blumer dapat dilakukan melalui pidato publik atau orasi publik serta dapat dilakukan dengan menulis karya-karya literatur termasuk karya fiksi seperti novel. Banyak karya fiksi yang mampu mengubah presepsi orang tentang kondisi atau masalah yang dihadapinya sebagai masalah sosial.

 

4.     Keguncangan sosial

Kekacauan sosial ini terjadi ketika masyarakat atau individu dalam masyarakat kehilangan akal atau kepercayaan yang biasanya mereka miliki. Ketika individu-individu dalam masyarakat ini mengalami apa yang disebut dengan ketegangan internal misalnya stress, dan sebagainya. Ditandai dengan kemarahan, frustasi, dan perasaan tidak aman. Situasi kekacauan sosial ini membuat individu menjadi tidak stabil secara psikologis dan mereka berpotensi memiliki perilaku yang tidak dapat diduga. Situasi dan kondisi individu ini yang tidak stabil, frustasi, dan merasa tidak aman mengalami ketegangan internal itu menular dari satu orang kepada orang lain.

 

5.     Kontigen

Sebuah situasi ketika seseorang yang berada dalam sebuah masyarakat atau kelompok sosial tertentu terperangkap dalam emosi kelompok yang sedaang bermasalah. Proses penularan ini yang mempengaruhi semua anggota kelompok sosial yang pada akhirnya membuat ketegangan sosial (sosial unrest).

 

6.     Reaksi melingkar

Konsep ini terkait dengan konsep penularan. Reaksi melingkar ini adalah respon seseorang terhadap orang lain dengan cara merefleksikan kembali kepada orang lain tersebut perasaan yang ditujukan kepadanya. Contoh sederhananya begini, misalnya A merefleksikan perasaan tidak amannya kepada B, lalu kemudian B menjadi ikut marah, frustasi dan tidak aman. Apa yang dirasakan B tidak hanya mempengaruhi C (orang ketiga) tetapi apa yg dilakukan B juga memperkuat perasaan frustasi, marah, tidak aman si A.

 

7.     Kerumunan

Kerumunan adalah ketika individu-individu dalam masyarakat atau suatu kelompok kehilangan kemampuan berfikir dan kecenderungan individu untuk mengikuti kawanannya daripada akal sehatnya. Kerumunan ini terjadi ketika individu-individu berubah dari pribadi yang irrasional menjadi pribadi yang tidak dapat mengendalikan dan menilai situasi yang melingkupinya. Individu dalam kerumunan cenderung mengikuti instingnya dari pada akal sehatnya serta cenderung mengikuti kawanannya. Individu dalam kerumunan ini mengalami perubahan disebabkan oleh pikirannya, perasaannya yang telah tergantikan oleh pikiran dan perasaan kelompok.

Asumsi-asumsi Teori

1.     bentuk perilaku kolektif baru yang berbeda dengan perilaku kolektif yang sudah mapan dapat muncul dalam sebuah masyarakat.

2.     kondisi sosial tidak menyenangkan yang dialami seseorang seperti kemiskinan, perbudakan itu tidak serta merta melahirkan pemberontakan

3.     masalah sosial akan muncul ketika seseorang akan muncul ketika seseorang menginterpertasikan kondisi yang mereka alami sebagai masalah dalam interaksinya dikehidupan sehari-hari.

4.     perasaan yang diperlakukan tidak adil tidak secara  otomatis mendorong terjadinya apa yang disebut dengan perilaku kolektif seperti protes akan tetapi ia akan melahirkan apa yang disebut dengan kekacauan sosial.

5.     Kondisi yang mudah terpengaruh ketika ajakan melakukan aksi protes muncul. Karena kekacauan sosial itu tidak secara otomatis akan mendorong seseorang untuk terlibat dalam aksi-aksi protes atau perilaku kolektif baru.

6.     kerumunan adalah respon pertama dari kekacauan sosial yakni ketika indvidu-individu kehilangan kemampuan untuk menilai dan mengendalikan keadaan yang membuat individu mengikuti instingnya daripada akal sehatnya sera mengkuti keinginan kawanannya. Setiap orang didalam kerumunan itu memiliki perilaku yang sama tanpa berpikir. Pikiran, perasaan, sikap dan perilaku individu dalam kerumunan menular satu sama lain melalui proses yang disebut circular reaction. Dan situ orang dengan orang yg lainnya melebur menjadi satu dalam pikiran kolektif kerumunan

 

Ciri-ciri perilaku kolektif

1.     Perilaku yang dilakukan bersama oleh sejumlah orang

2.     Perilaku yang bersifat spontanitas dan tidak terstruktur

3.     Perilaku yang tidak bersifat rutin

4.     Perilaku yang merupakan tanggapan terhadap rangsangan tertentu

Macam-macam perilaku kolektif    

1.     Crowd / kerumunan

a.     Temporary Crowd : orang yang berbeda pada situasi saling berdekatan di suatu tempat dan pada situasi sesaat.

b.     Casual Crowd : sekelompok orang yang berbeda di ujung jalan dan tidak memiliki maksud tertentu.

c.     Conventional Crowd : audience yang sedang mendengarkan ceramah

d.     Expressive Crowd : sekumpulan orang yang sedang menonton konser musik yang menari sambil sesekali ikut melantunkan lagu

e.     Acting Crowd atau Rioting Crowd : sekelompok massa yang melakukan Tindakan kekerasan

f.      Solidaristic Crowd : kesatuan massa yang munculnya karena didasari oleh kesamaan ideologi

2.     MOB

Kerumunan (crowd) yang emosional dan cenderung melakukan kekerasan atau penyimpangan (violence) dan Tindakan destruktif, dimana Tindakan melawan tatanan sosial yang ada secara langsung. Hal ini muncul karena adanya rasa ketidakpuasan, ketidakadilan, frustasi, adanya perasaan dicederai oleh institusi atau lembaga yang telah mapan dan lebih tinggi. Bila MOB ini dalam skala besar, maka bentuknya menjadi kerusuhan massa.

3.     Panik

Bentuk perilaku kolektif yang tindakannya merupakan reaksi terhadap ancaman yang muncul di dalam kelompok tersebut. Biasanya berhubungan dengan kejadian-kejadian bencana (disaster). Tindakan reaksi massa ini cenderung terjadi pada awal suatu kejadian, dan hal ini tidak terjadi ketika mereka mulai tenang. Bentuk lebih parah dari kejadian panik ini adalah histeria massa. Pada hidteria massa terjadi kecemasan yang berlebihan dalam msyarakt. Misalnya munculnya issue tsunami dan banjir.

4.     Rumor

Suatu informasi yang tidak dapat dibuktikan, dan dikomunikasikan yang muncul dari satu orang kepada orang lain (isu sosial). Biasanya terjadi Ketika situasi dimana seseorang kekurangan informasi untuk membuat interpretasi yang lebih komprehensif. Media yang digunakan umumnya adalah telepon.

5.     Opini public

Sekelompok orang yang memiliki pendapat beda mengenai sesuatu hal dalam masyarakat. Dalam opini publik ini antara kelompok masyarakat terjadi perbedaan pandangan atau perspektif. Konflik bisa sangat potensial terjadi pada masyarkat yang kurang memahami akan masalah meanjadi interes dalam masyarakat tersebut. Contoh : hukuman mati, pemilu, penetapan UU tertentu, dan sebagainya.

6.     Propaganda

Informasi atau pandangan yang sengaja digunakan untuk menyampaikan dan membentuk opini public. Biasanya diberikan oleh sekelompok orang, organisasi, atau masyarakat yang ingin tercapai tujuannya. Media komunikasi banyak digunakan untuk melakukan propaganda ini. Kadangkala juga berupa pertemuan kelompok (crowd). Penampilan dari publik figur kadang kala mnjadi snjata yg ampuh untuk melakukan propaganda ini.

Contoh perilaku kolektif

Bentuk Kerumunan : Car free day- solidaristic crowd (kesatuan massa yang munculnya didasari oleh kesamaan ideologi) dimana banyak orang ingin melakukan kegiatan bersantai dan berolahraga di suatu tempat.

 

Factor penentu perilaku kolektif

1.     Situasi sosial : situasi yg menyangkut ada tidaknya pengaturan dalam instansi tertentu

2.     Ketegangan Struktural : adanya perbedaan atau kesenjangan disuatu wilayah akan menimbulkan ketegangan yg dapat menimbulkan bentrok ketidakpahaman

3.     Menyebarnya suatu kepercayaan umum, berkembangnya isu-isu yang dapat menyinggung kelompok lain.

4.     Factor yang mendahului, yakni factor-faktor penunjang kecemasan dan kecurigaan yang dikandung masyarakat

5.     Mobilisasi perilaku oleh pemimpin untuk bertindak, perilaku kolektif terwujud apabila khalayak ramai dimobilisasikan oleh pimpinannya

Bentuk penyimpangan perilaku kolektif

a.     Tindakan kenakalan

b.     Tawuran atau perkelahian antar kelompok

c.     Tindakan kejahatan berkelompok / gangster

d.     Penyimpangan budaya

Gerakan sosial

Ini juga disebut social movement yang merupakan aktivitas sosial berupa Gerakan sejenis tindakan sekelompok yang berupa kelompok informal berbentuk organisasi, berjumlah besar atau individu yng secara spesifik berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan melaksanakan, menolak, atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial. Maka, gerakan sosial dapat dikatakan gerakan non-formal atau gerakan yang tidak diakui oleh negara yang menginginkan perubahan dengan melakukan aksi protes terhadap kebijakan pemerintah.

Gerakan sosial sebagai bentuk perilaku kolektif

Gerakan sosial termasuk salah satu bentuk perilaku kolektif, tetapi berbeda dengan perilaku kolektif pada umumnya. Kamanto Sunarto, dalam bukunya pengantar sosiologi menjelaskan bahwa gerakan sosial ditandai oleh adanya tujuan jangka Panjang, yaitu untuk mengubah atau mempertahankan keadaan tertentu atau institusi yang ada di dalam masyarakat.[3]

Definisi gerakan sosial, sebagai bagian dari perilaku kolektif:

1.    Menurut Direnzo, gerakan sosial adalah perilaku dari sebagian anggota masyarakat untuk mengoreksi kondisi yang banyak menimbulkan problem atau tidak menentu, untuk menghadirkan suatu kehidupan yang lebih baik.

2.    Menurut Baldridge, gerakan sosial adalah sebuah bentuk perilaku kolektif yang terdiri atas kelompok orang-orang yang memiliki dedikasi dan terorganisasi untuk mempromosikan / sebaliknya menghalangi terjadinya perubahan.

Seperti halnya Gerakan mahasiswa Indonesia pada tahun 1965-1966 yang dilancarkan hampir setiap hari, bertujuan mengubah kebijakan ekonomi pemerintahan (pembubaran kabinet, penurunan harga, dan pembubaran PKI)

Gerakan sosial terbagi menjadi 4 tipe berdasarkan tipe perubahan dan besarnya perubahan yg dikehendaki, yakni:

a.     Alternative Social Movement: Gerakan yg bertujuan untuk mengubah pada sebagian perilaku perorangan, seperti kampanye agar tidak merokok, hubungan seks, dan sebagainya.

b.     Redemptive Social Movement: Gerakan untuk merubah pada perilaku perorangan, khususnya bidang agama. Seperti gerakan untuk obat hidup sesuai dengan ajaran agama

c.     Revormative Social Movement: Gerakan untuk merubah masyarakat dalam bidang-bidang tertentu, seperti Gerakan kaum homoseksual untuk memperoleh pengakuan terhadap gaya hidup mereka atau Gerakan gender

d.     Transformative Social Movement: Gerakan untuk mengubah masyarakat secara keseluruhan, seperti gerakan kaum komunis untuk menciptakan kaum atau masyarakat komunis

Gerakan sosial memiliki tiga karakteristik sebagai berikut:

1.     Organisasi internal yang tingkatannya sangat tinggi

2.     Gerakan berlangsung dalam waktu lama

3.     Sengaja untuk mencoba emmpertajam organisasi masyarakat itu sendiri

Contoh kegiatan gerakan sosial

Menyelenggarakan kegiatan kolektif untuk membawa atau menolak perubahan dalam kelompok atau masyarakat. gerakan sosial memiliki dramatis yang berdampak pada perjalan sejarah dan evolusi struktur sosial. Fungsionalis yaitu berkontribusi pada pembentukan opini publik.

Klasifikasi lain tentang gerakan sosial dikemukakan oleh kornblum, yaitu:

1.     Revolutionary Movements : jenis gerakan sosial yang menginginkan perubahan yang menyeluruh pada sendi-sendi kehidupan masyarakat, sistem sosial, budaya, ekonomi, maupun sistem politik.

Misalnya, revolutionary movements masyarakat rusia pada tahun 1917 yang berhasil mengubah sistem sosial, budaya, ekonomi, maupun politik rusia menjadi sistem komunis.

2.     Reformative atau Reformist Movement: Gerakan sosial yang menginginkan perubahan pada segi-segi tertentu kehidupan masyarakat.

Misalnya, gerakan boedi oetomo (1908) atau syarikat islam (1912) yang menginginkan terpenuhinya hak-hak memperoleh Pendidikan dikalangan pribumi.

3.     Concervative Movements: Gerakan sosial yang mempertahankan suatu keadaan atau institusi yang ada dalam suatu masyarakat.



[1] AF Sigit Rochadi, Perilaku Kolektif dan Gerakan Sosial (Rasibook, 2020).

[2] Luffie Apriyanah, ‘Perilaku Kolektif Dan Gerakan Sosial’, Unlimited, 2014

[3] Prof Dr Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi (Universitas Indonesia Publishing, 2005).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori - Teori Komunikasi Temporer

INDUSTRI BISNIS MEDIA MASSA “JAWA POS” DALAM MENGHADAPI ERA DIGITAL