Perilaku - Perilaku Kolektif
Perilaku - Perilaku Kolektif
Oleh : Syifa' Yahyania Awim Tasya
04020520085
"Manusia selalu beriteraksi dengan manusia lainnya yang membentuk suatu lingkungan dan budaya. Interaksi yang dilakukan oleh masyarakat yang inilah menimbulkan sebuah kerumunan baru. Dengan bersifat spontan dan tidak tersusun dilakukan dengan tindakan bersama oleh sejumlah besar orang dan bukan individu saja"
TEORI PERILAKU KOLEKTIF
Pengertian
Kolektif
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah secara gabungan. Sekumpulan pribadi
yang bekerja sama untuk tujuan tertentu tanpa adanya hierarki di dalamnya, yang
bisa berupa kelompok besar atau kecil, singkat maupun lama, dengan keanggotaan
yang bersifat sukarela. Teori perilaku kolektif disebut juga teori gerakan
sosial klasik. Teori ini muncul pada paruh pertama abad ke-20 dan menjadi teori
awal berkembangnya teori gerakan sosial.
Ahli sosiologi
Bruce J Cohen (1992) menggunakan istilah perilaku kolektif mengacu pada
perilaku sekelompok orang yang muncul secara spontan dan tidak terstruktur
sebagai respon emosional terhadap kejadian tertentu.
Perilaku ini juga terjadi apabila cara-cara mengerjakan sesuatu yang telh dikukuhkan
secara tradisional tidak lagi memadai. Individu-individu yang terlibat dalam
perilaku kolektif tanggap terhadap rangsangan tertentu yg mungkin datang dari
orang lain atau peristiwa khusus.[1]
Menurut Smelser, perilaku kolektif adalah perilaku yang relatif spontan dan
tidak terstruktur dari sekelompok orang yang bereaksi terhadap pengaruh umum.[2] Dengan demikian kita dapat
membedakan antara perilaku kolektif dengan perilaku rutin, tidak terstruktur
dan tidak stabil dari sekelompok orang yang bertujuan untuk menghilangkan rasa
ketidakpuasan dan kecemasan.
Pembahasan ini
difokuskan pada 2 tokoh yakni herbert blumer dan nelson. 2 tokoh ini memiliki
tradisi keilmuan yang berbeda, karena blumer memiliki paradigma interaksionisme
simbolik sementara nelson memiliki perspektif fungsionalisme struktural. Dan
kedua pemikir ini memiliki pandangan kritis satu sama lain. Jadi pada dasarnya
blumer dan nelson tidak disatukan oleh pandangan mereka terhadap fenomena
gerakan sosial atau fenomena perilaku kolektif. Tetapi, mereka disatukan
ketertarikannya untuk melakukan kajian terhadap perilaku kolektif.
Menurut Herbert Blumer (Behaviour) bersama
dengan gurunya (Robert Ezra Park) mengembangkan teori perilaku kolektif dan
memperkuat posisi teori perilaku kolektif dalam kajian ilmu sosial di
universitas chicago. Blumer dan park meyakini bahwa
kehidupan sosial diibaratkan dengan perilaku kolektif karena pada hakikatnya
kehidupan sosial merupakan interaksi antara satu orang dengan orang lain di dalam
keluarga, kelompok, dan komunitas. Blumer dan park memberikan perhatian pada
interaksi ini karena dengan interaksi ini sebuah kelompok membangun dan
melestarikan norma sosial yang mengatur orang-orang yang ada dalam kelompok
sosial tersebut. Namun demikian dalam setiap kelompok ada individu-individu
yang mengikuti norma-norma sosial yang berlaku (rule conformer) dan juga
ada yang menentang norma sosial yang berlaku (rule breaking).
Teori perilaku kolektif memfokuskan
pada kelompok yang menentang norma sosial yang berlaku tersebut yakni
berperilaku dengan cara-cara yang tidak biasa atau konvensional. Bagi Blumer
orang yg menentang tersebut yang menjadi pembuat aturan atau norma sosial baru
(rule maker). Munculnya rule maker inilah yang membuat
perubahan-perubahan. Contohnya dulu norma sosial menganggap bahwa peran dan
tanggung jawab perempuan adalah melayani laki-laki, namun dengan adanya
kelompok perempuan yang menentang nilai atau norma sosial tersebut kemudian
memunculkan norma sosial baru tentang kesetaraan gender. Pada awalnya,
perempuan-perempuan yang menentang norma tersebut dan membuat norma baru itu
dianggap aneh atau gila karena bertentangan dengan tradisi, hukum, dan moral
yang diyakini oleh masyarakat luas. Namun, pada saat ini banyak orang yang
memiliki persetujuan dengan norma sosial yang mengedepankan kesetaraan gender.
Teori perilaku kolektif (crowd behaviour theory)
Teori ini dibagi menjadi beberapa teori, yakni
a.
Teori Convergen : mengemukakan bahwa agrerat mewakili dengan berbagai
kebutuhan, keinginan dan emosi yang memancing perilaku yang spontan dan yang
sudah terkontrol sebelumnya. Dimana
perilaku dari kerumunan disebabkan oleh kesepakatan. Tidak begitu saja ecara
spontan yang sebelumnya sudah terkait dengan suatu pemikiran ynag sama. Orang yang
tergabung dalam kerumunan sudah memiliki satu kesamaan pemikiran, sebelum
bergabung pada kerumunan tadi.
Contoh:
mahasiswa yang melakukan demo kepada pemerintah. Maka mahasiswa yang tergabung
dalam kelompok atau kerumunan tersebut memiliki pemikiran atau informasi yang
sama. Ada juga kesamaan usia (mahasiswa tersebut) yang tergabung dalam
kerumunan.
b.
Teori
Contagion (teori penularan) : emosi
dan perilaku dapat ditukar dari satu individu ke individu lainnya. Ketika seorang individu manusia
terlibat dalam sebuah kerumunan (crowd), maka seseorang tersebut tidak bisa
berpikir secara rasional. Lebih mengikuti situasi, kondisi,
perilaku atau tindakan dalam kerumunan tersebut. Ketika seseorang masuk dalam
kerumunan mereka bertindak secara irrasional.
Contohnya: orang yang terlibat dalam kerumunan Ketika
melihat konser musik, keberadaanya yakni irrasional. Ketika pada konser
tersebut terdapat orang yang bernyanyi atau menyanyikan lagu dan seseorang
dalam kerumunan mengikuti alunannya dan ikut bernyanyi secara tanpa sadar.
Sebuah situasi yang bersifat sikular, dimana Tindakan itu beredar dan menular
kepada yang lain. Jamaah pengajian, jika mengucapkan kata tertentu maka akan
diikuti orang lain.
C. Teori Emergent
Norm (Teori perkembangan norma) : tentang
teori penggabungan konvergen. meskipun
seeorang dating dalam pemahaman yang sama dalam sebuah kerumunan kemudian akan
memunculkan tindakan baru yang melahirkan sebuah norma maka akan diikuti oleh
seseorang yang ada pada kerumunan tersebut.
Contoh : sebuah demonstrasi tentu pasti ada kesepakatan
antar demontsran yang hadir dalam tindakan demo untuk tidak melakukan
kekerasan. Tapi dalam proses demo tersebut tiba-tiba ada seseorang yang
melempar batu dan seseorang lain mengikuti atau menyepakati Tindakan tersebut
hingga menjadi tawuran. Maka itu akan diikuti juga para demonstran yang ikut
dalam kerumunan.
D. Teori
Value-Added (Teori Nilai Tambah) :
mengemukakan bahwa terdapat enam tahap penentu terjadinya perilaku kolektif.
Dimana setiap tahapannya dipengaruhi oleh tahap sebelumnya dan kemudian
mempengaruhi tahap berikutnya. Kondisi pokok yang memicu munculnya perilaku
kolektif menurut teori value-added adalah
a.
Kesesuaian struktural
b.
Ketegangan struktural
c.
Berkembangnya kepercayaan umum
d.
Faktor yang mendahului
e.
Mobilisasi
f.
Kontrol sosial
Meskipun teori nilai tambah ini banyak mendapat kritik,
sampai saat ini dapat dipandang sebagai salah satu teori klasik yang cukup
resprensif untuk menjelaskan fenomena perilaku kolektif atau perilaku massa
yang terjadi dalam suatu konteks sosial riil.
E. Teori
Interaksionis : ketika orang lain
dalam kerumunan, maka mereka akan “menghilangkan“ jati dirinya. Kemudian
perilakunya akan menyesuaikan dan menyatu dengan jiwa di kerumunan massa
tersebut.
Perilaku kolektif dapat berbentuk perilaku
yang tersebar, kerumunan, dan gerakan sosial
a. Perilaku
kolektif yang tersebar : fashion, rumor, dan publik
b. Kerumunan : casual,
konvensional, ekspresif dan akting
c. Gerakan sosial
: mempunyai bentuk gerakan revolusioner, reformis, konservatif dan gerakan
reasioner. Revolusi sosial termasuk dari contoh greakan sosial.
Konsep kunci dari teori perilaku kolektif
menurut Herbert Blumer
1. Masalah Sosial
Bagi Blumer
kondisi kemalangan atau kesulitan hidup lainnya tidak menjadi masalah sosial
kecuali jika seseorang menginterpretasikannya seperti itu. Oleh karena itu,
masalah sosial ini bergantung pendefinisian seseorang atas masalah yang
dihadapinya. Itulah sebabnya mengapa orang miskin, budak tidak serta merta
menjadi pemberontak karena bisa jadi mereka tidak mendefinisikan kemiskinannya
dan perbudakannya menjadi masalah sosial.
2.
Keluhan
atas perlakuan tidak adil
Situasi ini terjadi ketika kehidupan
normal seseorang itu terganggu sehingga mereka tidak dapat menuruti ketentuan
norma sosial yang berlaku. Munculnya situasi atau keluhan tidak adil tersebut
disebabkan oleh dua hal yaitu adanya perampasan dan peminggiran. Adanya peminggiran
atau keadaan seseorang yang terisolasi atau terputus dari orang lain maupun dia
terpinggirkan dari institusi-institusi sosial. Misalnya ketika seseorang
mengalami broken home juga seseorang yang hidup dalam komunitas yang serba
individualis dan tidak memiliki rasa kebersamaan dalam komunitas. Mereka yang
mengalami peminggiran atau marginalisasi ini akan merasa kosong, frustasi dan
tidak bermakna. Orang-orang yang merasa seperti itu sama seperti konsep Mass
Society yang disebutkan oleh Hannah anrendt, eric, dan Karl Manheim. Mass
society adalah kondisi masyarakat modern yang mengalami keterputusan sosial
secara meluas. Mass society terjadi ketika keluarga dan komunitas digantikan
oleh negara, pasar yang memiliki sifat sangat birokratis, formal, dan impersonal.
3.
Agitasi
dan agitator
Agitasi adalah proses mempengaruhi
presepsi orang tentang kehidupan sosial mereka sedangkan agitator adalah orang
yang mempengaruhi presepsi orang tentang kondisi sosial yang penuh penderitaan
sebagai masalah sosial.
Agitasi dan
agitator ini menjadi relevan dalam pandangan blumer ketika masalah sosial
tergantung pada interpretasi atau definisi seseorang. Misalnya, seorang
agitator mempengaruhi orang yang kehidupan malang dan tidak menginterpretasikan
bahwa kemalangannya itu sebagai masalah sosial untuk mengubah presepsinya bahwa
kemalangan hidupnya itu adalah masalah sosial dan agitasi dalam pandangan
blumer dapat dilakukan melalui pidato publik atau orasi publik serta dapat
dilakukan dengan menulis karya-karya literatur termasuk karya fiksi seperti
novel. Banyak karya fiksi yang mampu mengubah presepsi orang tentang kondisi
atau masalah yang dihadapinya sebagai masalah sosial.
4.
Keguncangan
sosial
Kekacauan sosial ini terjadi ketika
masyarakat atau individu dalam masyarakat kehilangan akal atau kepercayaan yang
biasanya mereka miliki. Ketika individu-individu dalam masyarakat ini mengalami
apa yang disebut dengan ketegangan internal misalnya stress, dan sebagainya. Ditandai
dengan kemarahan, frustasi, dan perasaan tidak aman. Situasi kekacauan sosial
ini membuat individu menjadi tidak stabil secara psikologis dan mereka
berpotensi memiliki perilaku yang tidak dapat diduga. Situasi dan kondisi
individu ini yang tidak stabil, frustasi, dan merasa tidak aman mengalami
ketegangan internal itu menular dari satu orang kepada orang lain.
5.
Kontigen
Sebuah situasi ketika seseorang yang
berada dalam sebuah masyarakat atau kelompok sosial tertentu terperangkap dalam
emosi kelompok yang sedaang bermasalah. Proses penularan ini yang mempengaruhi
semua anggota kelompok sosial yang pada akhirnya membuat ketegangan sosial (sosial
unrest).
6.
Reaksi
melingkar
Konsep ini terkait dengan konsep
penularan. Reaksi melingkar ini adalah respon seseorang terhadap orang lain
dengan cara merefleksikan kembali kepada orang lain tersebut perasaan yang
ditujukan kepadanya. Contoh sederhananya begini, misalnya A merefleksikan
perasaan tidak amannya kepada B, lalu kemudian B menjadi ikut marah, frustasi
dan tidak aman. Apa yang dirasakan B tidak hanya mempengaruhi C (orang ketiga)
tetapi apa yg dilakukan B juga memperkuat perasaan frustasi, marah, tidak aman
si A.
7.
Kerumunan
Kerumunan adalah ketika individu-individu dalam masyarakat atau
suatu kelompok kehilangan kemampuan berfikir dan kecenderungan individu untuk mengikuti
kawanannya daripada akal sehatnya. Kerumunan ini terjadi ketika
individu-individu berubah dari pribadi yang irrasional menjadi pribadi yang
tidak dapat mengendalikan dan menilai situasi yang melingkupinya. Individu dalam kerumunan cenderung mengikuti
instingnya dari pada akal sehatnya serta cenderung mengikuti kawanannya.
Individu dalam kerumunan ini mengalami perubahan disebabkan oleh pikirannya,
perasaannya yang telah tergantikan oleh pikiran dan perasaan kelompok.
Asumsi-asumsi Teori
1. bentuk perilaku
kolektif baru yang berbeda dengan perilaku kolektif yang sudah mapan dapat
muncul dalam sebuah masyarakat.
2. kondisi sosial
tidak menyenangkan yang dialami seseorang seperti kemiskinan, perbudakan itu
tidak serta merta melahirkan pemberontakan
3. masalah sosial
akan muncul ketika seseorang akan muncul ketika seseorang menginterpertasikan
kondisi yang mereka alami sebagai masalah dalam interaksinya dikehidupan
sehari-hari.
4. perasaan yang
diperlakukan tidak adil tidak secara
otomatis mendorong terjadinya apa yang disebut dengan perilaku kolektif
seperti protes akan tetapi ia akan melahirkan apa yang disebut dengan kekacauan
sosial.
5. Kondisi yang
mudah terpengaruh ketika ajakan melakukan aksi protes muncul. Karena kekacauan
sosial itu tidak secara otomatis akan mendorong seseorang untuk terlibat dalam
aksi-aksi protes atau perilaku kolektif baru.
6. kerumunan
adalah respon pertama dari kekacauan sosial yakni ketika indvidu-individu
kehilangan kemampuan untuk menilai dan mengendalikan keadaan yang membuat
individu mengikuti instingnya daripada akal sehatnya sera mengkuti keinginan
kawanannya. Setiap orang didalam kerumunan itu memiliki perilaku yang sama
tanpa berpikir. Pikiran, perasaan, sikap dan
perilaku individu dalam kerumunan menular satu sama lain melalui proses yang
disebut circular
reaction. Dan situ orang
dengan orang yg lainnya melebur menjadi satu dalam pikiran kolektif kerumunan
Ciri-ciri perilaku kolektif
1. Perilaku yang
dilakukan bersama oleh sejumlah orang
2. Perilaku yang
bersifat spontanitas dan tidak terstruktur
3.
Perilaku
yang tidak bersifat rutin
4. Perilaku yang
merupakan tanggapan terhadap rangsangan tertentu
Macam-macam perilaku
kolektif
1. Crowd /
kerumunan
a. Temporary Crowd
: orang yang berbeda pada situasi saling berdekatan di suatu tempat dan pada
situasi sesaat.
b.
Casual
Crowd : sekelompok orang yang berbeda di ujung jalan dan tidak memiliki maksud tertentu.
c.
Conventional
Crowd : audience yang sedang mendengarkan ceramah
d. Expressive Crowd
: sekumpulan orang yang sedang menonton konser musik yang menari sambil
sesekali ikut melantunkan lagu
e.
Acting
Crowd atau Rioting Crowd : sekelompok massa yang melakukan Tindakan kekerasan
f.
Solidaristic
Crowd : kesatuan massa yang munculnya karena didasari oleh kesamaan ideologi
2.
MOB
Kerumunan
(crowd) yang emosional dan cenderung melakukan kekerasan atau penyimpangan
(violence) dan Tindakan destruktif, dimana Tindakan melawan tatanan sosial yang
ada secara langsung. Hal ini muncul karena adanya rasa ketidakpuasan,
ketidakadilan, frustasi, adanya perasaan dicederai oleh institusi atau lembaga
yang telah mapan dan lebih tinggi. Bila MOB ini dalam skala besar, maka bentuknya menjadi kerusuhan massa.
3.
Panik
Bentuk perilaku
kolektif yang tindakannya merupakan reaksi terhadap ancaman yang muncul di
dalam kelompok tersebut. Biasanya berhubungan dengan kejadian-kejadian bencana
(disaster). Tindakan reaksi massa ini cenderung terjadi pada awal suatu
kejadian, dan hal ini tidak terjadi ketika mereka mulai tenang. Bentuk lebih parah dari kejadian panik ini
adalah histeria massa. Pada hidteria massa terjadi kecemasan yang berlebihan
dalam msyarakt. Misalnya munculnya issue tsunami dan banjir.
4.
Rumor
Suatu informasi
yang tidak dapat dibuktikan, dan dikomunikasikan yang muncul dari satu orang
kepada orang lain (isu sosial). Biasanya terjadi Ketika situasi dimana
seseorang kekurangan informasi untuk membuat interpretasi yang lebih komprehensif.
Media yang digunakan umumnya adalah telepon.
5.
Opini
public
Sekelompok
orang yang memiliki pendapat beda mengenai sesuatu hal dalam masyarakat. Dalam
opini publik ini antara kelompok masyarakat terjadi perbedaan pandangan atau perspektif.
Konflik bisa sangat potensial terjadi pada masyarkat yang kurang memahami akan
masalah meanjadi interes dalam masyarakat tersebut. Contoh : hukuman mati,
pemilu, penetapan UU tertentu, dan sebagainya.
6.
Propaganda
Informasi atau pandangan yang
sengaja digunakan untuk menyampaikan dan membentuk opini public. Biasanya
diberikan oleh sekelompok orang, organisasi, atau masyarakat yang ingin tercapai
tujuannya. Media komunikasi banyak digunakan untuk melakukan propaganda ini.
Kadangkala juga berupa pertemuan kelompok (crowd). Penampilan dari publik figur kadang kala
mnjadi snjata yg ampuh untuk melakukan propaganda ini.
Contoh perilaku kolektif
Bentuk Kerumunan : Car free day- solidaristic
crowd (kesatuan massa yang munculnya didasari oleh kesamaan ideologi) dimana
banyak orang ingin melakukan kegiatan bersantai dan berolahraga di suatu
tempat.
Factor penentu perilaku kolektif
1.
Situasi
sosial : situasi yg menyangkut ada tidaknya pengaturan dalam instansi tertentu
2.
Ketegangan
Struktural : adanya perbedaan atau kesenjangan disuatu wilayah akan menimbulkan
ketegangan yg dapat menimbulkan bentrok ketidakpahaman
3.
Menyebarnya
suatu kepercayaan umum, berkembangnya isu-isu yang dapat menyinggung kelompok
lain.
4.
Factor
yang mendahului, yakni factor-faktor penunjang kecemasan dan kecurigaan yang
dikandung masyarakat
5.
Mobilisasi
perilaku oleh pemimpin untuk bertindak, perilaku kolektif terwujud apabila
khalayak ramai dimobilisasikan oleh pimpinannya
Bentuk
penyimpangan perilaku kolektif
a. Tindakan
kenakalan
b. Tawuran atau
perkelahian antar kelompok
c. Tindakan
kejahatan berkelompok / gangster
d. Penyimpangan
budaya
Gerakan sosial
Ini juga disebut social movement yang
merupakan aktivitas sosial berupa Gerakan sejenis tindakan sekelompok yang
berupa kelompok informal berbentuk organisasi, berjumlah besar atau individu
yng secara spesifik berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan
melaksanakan, menolak, atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial. Maka,
gerakan sosial dapat dikatakan gerakan non-formal atau gerakan yang tidak
diakui oleh negara yang menginginkan perubahan dengan melakukan aksi protes
terhadap kebijakan pemerintah.
Gerakan sosial sebagai bentuk perilaku
kolektif
Gerakan sosial
termasuk salah satu bentuk perilaku kolektif, tetapi berbeda dengan perilaku
kolektif pada umumnya. Kamanto Sunarto, dalam bukunya pengantar sosiologi
menjelaskan bahwa gerakan sosial ditandai oleh adanya tujuan jangka Panjang,
yaitu untuk mengubah atau mempertahankan keadaan tertentu atau institusi yang
ada di dalam masyarakat.[3]
Definisi gerakan sosial, sebagai bagian dari
perilaku kolektif:
1.
Menurut Direnzo, gerakan sosial adalah
perilaku dari sebagian anggota masyarakat untuk mengoreksi kondisi yang banyak
menimbulkan problem atau tidak menentu, untuk menghadirkan suatu kehidupan yang
lebih baik.
2.
Menurut Baldridge, gerakan sosial adalah
sebuah bentuk perilaku kolektif yang terdiri atas kelompok orang-orang yang
memiliki dedikasi dan terorganisasi untuk mempromosikan / sebaliknya
menghalangi terjadinya perubahan.
Seperti halnya
Gerakan mahasiswa Indonesia pada tahun 1965-1966 yang dilancarkan hampir setiap
hari, bertujuan mengubah kebijakan ekonomi pemerintahan (pembubaran kabinet,
penurunan harga, dan pembubaran PKI)
Gerakan sosial
terbagi menjadi 4 tipe berdasarkan tipe perubahan dan besarnya perubahan yg
dikehendaki, yakni:
a. Alternative Social
Movement: Gerakan yg bertujuan untuk mengubah pada sebagian perilaku
perorangan, seperti kampanye agar tidak merokok, hubungan seks, dan sebagainya.
b. Redemptive Social Movement: Gerakan untuk merubah pada perilaku
perorangan, khususnya bidang agama. Seperti gerakan untuk obat hidup sesuai dengan ajaran agama
c. Revormative Social
Movement: Gerakan untuk merubah masyarakat dalam bidang-bidang tertentu, seperti
Gerakan kaum homoseksual untuk memperoleh pengakuan terhadap gaya hidup mereka
atau Gerakan gender
d. Transformative Social
Movement: Gerakan untuk mengubah masyarakat secara keseluruhan, seperti gerakan
kaum komunis untuk menciptakan kaum atau masyarakat komunis
Gerakan sosial
memiliki tiga karakteristik sebagai berikut:
1. Organisasi
internal yang tingkatannya sangat tinggi
2. Gerakan
berlangsung dalam waktu lama
3. Sengaja untuk
mencoba emmpertajam organisasi masyarakat itu sendiri
Contoh kegiatan
gerakan sosial
Menyelenggarakan
kegiatan kolektif untuk membawa atau menolak perubahan dalam kelompok atau
masyarakat. gerakan sosial memiliki dramatis yang berdampak pada perjalan
sejarah dan evolusi struktur sosial. Fungsionalis yaitu berkontribusi pada
pembentukan opini publik.
Klasifikasi lain
tentang gerakan sosial dikemukakan oleh kornblum, yaitu:
1. Revolutionary Movements
: jenis gerakan sosial yang menginginkan perubahan yang menyeluruh pada
sendi-sendi kehidupan masyarakat, sistem sosial, budaya, ekonomi, maupun sistem
politik.
Misalnya, revolutionary
movements masyarakat rusia pada tahun 1917 yang berhasil mengubah sistem
sosial, budaya, ekonomi, maupun politik rusia menjadi sistem komunis.
2. Reformative atau
Reformist Movement: Gerakan sosial yang menginginkan perubahan pada segi-segi
tertentu kehidupan masyarakat.
Misalnya,
gerakan boedi oetomo (1908) atau syarikat islam (1912) yang menginginkan
terpenuhinya hak-hak memperoleh Pendidikan dikalangan pribumi.
3.
Concervative
Movements: Gerakan sosial yang mempertahankan suatu keadaan atau institusi yang
ada dalam suatu masyarakat.
[1] AF Sigit Rochadi, Perilaku Kolektif dan Gerakan Sosial (Rasibook,
2020).
[2]
Luffie Apriyanah, ‘Perilaku Kolektif Dan
Gerakan Sosial’, Unlimited, 2014
[3]
Prof Dr Kamanto Sunarto, Pengantar
Sosiologi (Universitas Indonesia Publishing, 2005).
Komentar
Posting Komentar